Teks Berjalan

Selamat Datang di Blog abuyasin.com Selamat Datang di Blog abuyasin.com
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Februari 2026

Saat Doa dan Usaha Sudah Maksimal

 


Saat Doa dan Usaha Sudah Maksimal, Biarkan Allah yang Bekerja

Ada satu titik dalam hidup di mana kita merasa sudah melakukan segalanya. Kita sudah bangun di sepertiga malam hingga dahi bersujud pasrah. Kita sudah membanting tulang, memeras keringat, dan menyusun strategi hingga batas kemampuan manusiawi kita.

Namun, hasil yang dinanti tak kunjung tiba. Pintu yang diketuk belum juga terbuka. Di saat itulah, hati mulai bertanya: “Kapan, ya Allah?”

Jika Anda berada di fase ini, ingatlah satu hal: Tugasmu bukan menentukan waktu, tugasmu adalah menjaga keyakinan.

1. Janji Allah tentang Kedekatan dan Ijabah

Allah SWT tidak pernah membiarkan hamba-Nya memohon dengan sia-sia. Dalam Al-Qur'an, Dia menegaskan betapa dekat-Nya Dia dengan orang yang berdoa:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku..." (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini adalah jaminan. Jika doa belum terkabul, bukan berarti Allah tidak mendengar. Dia hanya sedang menyusun skenario yang lebih indah dari apa yang Anda bayangkan.

2. Memahami Tiga Cara Allah Menjawab Doa

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tidak ada doa yang sia-sia bagi seorang muslim selama ia tidak meminta sesuatu yang berdosa atau memutus silaturahmi. Beliau bersabda:

"Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa... kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: diberikan segera di dunia, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang semisal dengan doa tersebut." (HR. Ahmad)

Kadang, penundaan adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk yang tidak kita ketahui.

3. Kekuatan Sabar dalam Penantian

Sabar bukan berarti diam tanpa arah, melainkan menunggu dengan sikap yang baik. Para ulama sering menekankan bahwa ujian terberat bukanlah saat berjuang, tapi saat menunggu.

  • Ibnu Atha'illah Al-Iskandari dalam Al-Hikam berkata:

"Janganlah keterlambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, membuatmu berputus asa. Sebab, Allah menjamin pengabulan doa bagimu menurut pilihan-Nya untukmu, bukan menurut pilihanmu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."

  • Umar bin Khattab pun pernah menyampaikan rahasia ketenangan hatinya:

"Aku tidak mengkhawatirkan apakah doaku dikabulkan atau tidak. Yang aku khawatirkan adalah jika aku tidak lagi diberi hidayah untuk berdoa. Karena jika aku masih bisa berdoa, aku tahu jawaban itu akan menyertainya."

4. Waktu Allah Adalah Waktu yang Paling Tepat

Kita sering merasa "sekarang" adalah waktu yang paling tepat, tapi Allah yang Maha Mengetahui Masa Depan tahu kapan mental dan keadaan kita benar-benar siap menerima nikmat tersebut.

Bisa jadi, jika diberikan sekarang, nikmat itu justru membuat kita lalai. Allah menundanya agar saat nikmat itu datang, kita menerimanya dengan penuh rasa syukur dan kematangan iman.

 

Penutup: Istirahatlah dalam Husnudzon

Jika Anda sudah berdoa dan sudah berusaha, maka tugas Anda sudah selesai. Kini saatnya memindahkan beban dari pundak ke dalam sujud. Berhentilah mencemaskan hasil.

Bersabarlah. Biarkan Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Karena ketika Allah mengijabah di waktu yang tepat, Anda akan menoleh ke belakang dan berkata, "Untung saja tidak dikabulkan saat itu, ternyata rencana Allah jauh lebih indah."

Allah Tidak Memintamu Sempurna

 



Allah Tidak Memintamu Sempurna, Dia Hanya Memintamu Berproses

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam tekanan untuk menjadi "sempurna". Sempurna dalam karier, sempurna sebagai orang tua, hingga sempurna dalam beribadah. Saat kita gagal atau terjatuh ke dalam lubang kesalahan, kita cenderung menghakimi diri sendiri dengan sangat keras, seolah pintu ampunan telah tertutup rapat.

Namun, ada satu kebenaran yang menenangkan: Allah tidak menuntutmu langsung sempurna, tapi Allah melihat setiap langkah kecilmu untuk terus berusaha.

1. Manusia: Makhluk yang Diciptakan dengan Kelemahan

Secara kodrat, manusia bukanlah malaikat yang tidak memiliki nafsu, bukan pula setan yang tidak memiliki kebaikan. Kita berada di antaranya. Allah SWT berfirman:

"...dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nisa: 28)

Kelemahan ini bukanlah alasan untuk menyerah pada dosa, melainkan pengingat bahwa kita selalu butuh sandaran pada-Nya. Allah tahu kita akan jatuh, itulah sebabnya Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Ghaffar (Maha Pengampun) dan At-Tawwab (Maha Penerima Taubat).

2. Fokus pada Langkah, Bukan Hasil Akhir

Rasulullah ﷺ sangat mencintai keistiqamahan (konsistensi), meskipun hal itu terlihat kecil di mata manusia. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berkelanjutan (konsisten) meskipun sedikit." (HR. Muslim)

Anda tidak harus menghafal Al-Qur'an dalam semalam. Anda tidak harus langsung menjadi ahli ibadah yang tak pernah tidur malam. Allah lebih menghargai satu ayat yang Anda baca dengan penuh perenungan setiap hari, daripada satu khatam yang dipaksakan lalu ditinggalkan selamanya.

3. Taubat adalah Bentuk Perjalanan Menuju-Nya

Jika hari ini Anda gagal, jangan berhenti. Kesempurnaan bukanlah ketiadaan dosa, melainkan bagaimana kita bangkit setelah berdosa. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang sering bertaubat." (HR. Tirmidzi)

4. Mutiara Hikmah Ulama: Jangan Menunggu Suci untuk Melangkah

Sering kali setan membisikkan, "Jangan shalat dulu, kamu masih banyak dosa," atau "Jangan pakai hijab dulu, perbaiki dulu hatimu." Ini adalah jebakan.

·         Ibnu Atha’illah Al-Iskandari dalam Kitab Al-Hikam memberikan peringatan:

"Keinginanmu agar orang lain melihatmu sempurna adalah bukti bahwa engkau belum jujur dalam menghamba kepada Allah." Beliau juga mengajarkan bahwa terkadang kesalahan yang membuahkan rasa rendah hati (hina diri di hadapan Allah) lebih baik daripada ketaatan yang membuahkan kesombongan.

·         Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah itu ibarat mendaki gunung. Terpeleset itu wajar, yang tidak wajar adalah ketika terpeleset, kita memilih untuk berguling jatuh ke bawah bukannya kembali mendaki.

Kesimpulan: Teruslah Melangkah

Allah tidak menghitung berapa kali Anda jatuh, Dia menghitung berapa kali Anda bangkit. Agama ini diturunkan untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Selama masih ada denyut nadi, selama itu pula pintu "proses" terbuka lebar.

Jangan biarkan standar dunia tentang kesempurnaan menjauhkanmu dari Allah yang Maha Pengasih. Teruslah melangkah, meskipun terseok-seok, meskipun pelan. Karena di setiap langkah tulusmu, ada Allah yang sedang menyambutmu dengan kasih sayang-Nya.

Mengapa Kita Sering Merasa Kurang?

  


Mengapa Kita Sering Merasa Kurang? Sebuah Renungan Tentang Seni Bersyukur

Seringkali kita berdiri di depan cermin, mengeluhkan guratan di wajah atau pakaian yang menurut kita sudah tertinggal zaman. Kita melihat ke meja makan dan merasa bosan dengan menu yang itu-itu saja. Bahkan, mungkin kita pernah terbangun dengan perasaan jengah terhadap rutinitas pekerjaan atau posisi yang kita jalani saat ini.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menyadari sebuah kebenaran yang getir sekaligus menampar ini?

Pakaian dan makananmu hari ini mungkin adalah kemewahan yang diimpikan orang lain. Posisimu saat ini mungkin adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan orang lain setiap malam. Hidup yang terkadang kamu keluhkan, bisa jadi adalah impian tertinggi bagi mereka yang kurang beruntung.

Masalahnya bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada bagaimana hati kita memandang pemberian tersebut.

 

1. Hakikat Syukur dalam Al-Qur'an

Allah SWT telah mengingatkan kita dalam banyak ayat bahwa kecenderungan manusia adalah kufur (mengingkari nikmat) jika tidak menjaga hatinya. Namun, bagi mereka yang bersyukur, Allah menjanjikan tambahan yang luar biasa.

  • Janji Penambahan Nikmat:
    • "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'" (QS. Ibrahim: 7)
  • Sedikitnya Orang yang Bersyukur:
    • "Sangat sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba': 13)

Ayat ini menyadarkan kita bahwa menjadi hamba yang bersyukur adalah sebuah "keistimewaan" karena tidak semua orang mampu melakukannya di tengah gempuran ambisi duniawi.

2. Tips Bahagia dari Rasulullah ﷺ: Lihat ke Bawah!

Salah satu penyakit hati yang membuat kita selalu merasa kurang adalah kebiasaan memandang ke atas dalam urusan dunia. Rasulullah ﷺ memberikan obat yang sangat mujarab dalam sebuah hadis:

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu tidak akan membuatmu meremehkan nikmat Allah padamu." (HR. Muslim)

Ketika kita merasa gaji kita kecil, lihatlah mereka yang masih menganggur. Ketika kita merasa rumah kita sempit, lihatlah mereka yang tidurnya beratap langit. Di situlah rasa syukur akan mekar.

3. Mutiara Hikmah Para Ulama

Para ulama salaf memiliki cara pandang yang sangat jernih terhadap dunia. Mereka tidak membiarkan dunia masuk ke dalam hati, cukup di tangan saja.

  • Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah berkata: "Syukur adalah membangun kerangka berpikir bahwa apa yang ada padamu adalah milik Allah, yang diberikan kepadamu tanpa daya dan kekuatan darimu."
  • Hasan Al-Bashri mengingatkan: "Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika nikmat itu tidak disyukuri, maka nikmat tersebut akan berubah menjadi azab (istidraj)."

 

Penutup: Bukan Hidup yang Kurang, Tapi Hati yang Belum Cukup

Kesimpulannya, rasa bahagia tidak datang dari banyaknya fasilitas, melainkan dari luasnya rasa syukur. Hidup yang kamu benci hari ini adalah hadiah bagi orang lain. Jangan sampai kita baru menyadari berharganya sebuah nikmat saat nikmat itu telah dicabut oleh-Nya.

Mari kita berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mengucapkan Alhamdulillah untuk setiap detak jantung, setiap suap nasi, dan setiap helai pakaian yang masih melekat di tubuh.

Melepaskan Genggaman



 Melepaskan Genggaman: Mengapa yang Dipaksakan Jarang Berakhir Indah

Pernahkah Anda merasa seperti sedang berlari di atas treadmill? Kaki bergerak sekuat tenaga, napas tersengal, keringat bercucuran, namun saat Anda menoleh ke samping, Anda masih berada di titik yang sama persis.

Dalam hidup, kita sering terjebak dalam ambisi yang membabi buta. Kita mengejar sesuatu entah itu karier, cinta, atau pencapaian tertentu dengan cara mencengkeramnya terlalu kuat. Kita percaya bahwa semakin keras kita memaksa, semakin cepat dunia akan tunduk pada keinginan kita.

Namun, benarkah demikian?

Bahaya dari "Ambisi yang Memaksa"

Segala sesuatu yang dipaksakan biasanya kehilangan esensinya. Bunga yang dipaksa mekar sebelum waktunya akan layu lebih cepat. Buah yang dikarbit agar matang sering kali kehilangan rasa manis alaminya. Begitu pula dengan takdir.

Saat kita terlalu mengejar angan hingga mengabaikan segalanya, kita sebenarnya sedang menunjukkan ketidakpercayaan kita pada skenario Alloh. Kita merasa seolah-olah hanya kerja keras kitalah yang menentukan hasil akhir, hingga kita lupa bahwa ada variabel "Izin Allah" di dalamnya.

Jika Memang Jalannya, Allah Akan Memperlancar

Ada sebuah ketenangan yang luar biasa saat kita mulai memahami konsep Barakah dan Ridha. Ketika sesuatu memang digariskan untuk menjadi milik kita, alam semesta atas izin Allah akan bekerja dengan cara yang unik untuk mendekatkannya pada kita.

  • Pintu-pintu yang Terbuka Sendiri: Anda akan menemukan kemudahan yang tidak terduga.
  • Hati yang Tenang: Tidak ada rasa cemas yang berlebihan atau ketakutan kehilangan, karena Anda tahu Anda berada di jalur yang tepat.
  • Pertemuan yang Kebetulan: Orang-orang yang tepat akan datang membantu di saat yang pas.

Bukan berarti kita hanya diam berpangku tangan. Kita tetap berusaha, namun dengan tangan yang terbuka, bukan tangan yang mengepal penuh ambisi negatif.

"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."  Umar bin Khattab.

Menata Ulang Niat: Ikhtiar Maksimal, Tawakal Total

Lantas, bagaimana cara membedakan antara "berjuang" dan "memaksakan"?

1.     Lihat Tandanya: Jika setiap langkah yang Anda ambil selalu menemui tembok buntu yang menyakitkan dan membuat batin tersiksa, mungkin itu sinyal untuk berhenti sejenak.

2.     Periksa Keikhlasan: Apakah Anda mengejar hal tersebut karena butuh, atau hanya karena ego ingin membuktikan sesuatu pada orang lain?

3.     Libatkan Sang Pemilik Skenario: Jangan hanya meminta apa yang Anda inginkan dalam doa, tapi mintalah apa yang terbaik menurut-Nya.

Ingatlah, teman-teman, bahwa hidup bukanlah perlombaan lari cepat. Terkadang, Allah menjauhkan kita dari apa yang kita kejar karena Dia tahu ada jurang di depan sana. Atau, Dia sedang menyiapkan jalan memutar yang pemandangannya jauh lebih indah dan tujuannya jauh lebih mulia.

Senin, 09 Februari 2026

Istiqomah

 


Istiqomah Itu Berat, Itulah Kenapa Hadiahnya Surga

Istiqomah, sebuah kata yang sederhana namun memiliki bobot yang luar biasa dalam Islam. Ia berarti keteguhan hati, konsistensi, dan keberlanjutan dalam ketaatan kepada Allah SWT, baik dalam keadaan suka maupun duka. Tidak mengherankan jika Rasulullah SAW bersabda bahwa istiqomah jauh lebih utama daripada seribu karamah (keajaiban), karena ia adalah bukti nyata keimanan seseorang. Beratnya istiqomah sebanding dengan agungnya balasan yang dijanjikan, yaitu surga.

 

1. Landasan Al-Qur'an: Janji Ketenangan dan Surga

Allah SWT dengan jelas mengaitkan istiqomah dengan ketenangan jiwa di dunia dan ganjaran surga di akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

 "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS. Fussilat: 30)

Analisis: Ayat ini memberikan jaminan psikologis dan spiritual yang luar biasa. Di saat-saat paling genting (kematian), orang yang istiqomah akan disambut oleh malaikat dengan kabar gembira, menghapuskan rasa takut dan sedih, serta langsung disambut dengan janji surga. Inilah ketenangan sejati yang hanya didapatkan oleh mereka yang teguh pendiriannya.

 

2. Landasan Hadist: Perintah yang Lebih Dicintai Allah

Rasulullah SAW sendiri pernah diminta oleh sahabat untuk memberikan nasihat yang ringkas namun mencakup segalanya, dan beliau menjawab dengan perintah istiqomah.

سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

"Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi berkata: Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam sebuah perkataan yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada seorang pun selainmu.' Beliau bersabda, 'Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah'." (HR. Muslim)

Hadist lain juga menunjukkan bahwa amalan yang sedikit namun kontinyu (istiqomah) lebih dicintai Allah:

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)

Makna: Istiqomah lebih sulit daripada melakukan amal besar sesekali. Melakukan shalat malam sesekali mungkin mudah, tapi menjaganya setiap malam adalah tantangan. Menjaga lisan dari ghibah sesaat mungkin bisa, tapi konsisten di setiap perkataan adalah ujian.

 

3. Hikmah dari Ulama Salaf (Pendahulu yang Saleh): Jalan Panjang Penuh Kesabaran

Para ulama terdahulu sering menekankan bahwa istiqomah adalah inti dari ibadah dan jalan menuju ma'rifatullah (mengenal Allah).

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu: Beliau menafsirkan istiqomah sebagai "Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." Ini menunjukkan bahwa istiqomah dimulai dari kemurnian tauhid dan konsistensi dalam menjaga akidah.
  • Umar bin Khattab radhiyallahu anhu: Beliau berkata, "Istiqomah adalah kamu teguh di atas perintah dan larangan (Allah), dan kamu tidak menyimpang seperti rubah." Rubah adalah hewan yang licik dan selalu mencari jalan keluar. Istiqomah berarti tidak mencari-cari alasan untuk menghindar dari ketaatan.
  • Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah: Beliau menjelaskan, "Mereka beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah, mereka tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan." Ini menggambarkan konsistensi yang teguh tanpa tergoda oleh hawa nafsu atau godaan dunia.
  • Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah: Dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam, beliau menjelaskan bahwa istiqomah mencakup istiqomah hati, lisan, dan anggota badan. Semuanya harus sejalan dalam ketaatan.

 

4. Tantangan Beratnya Istiqomah

Mengapa istiqomah itu berat?

  • Godaan Nafsu: Nafsu manusia selalu cenderung pada kesenangan instan dan menunda kesulitan.
  • Bisikan Setan: Setan tidak pernah berhenti menggoda untuk membuat kita lalai dan futur (lemah semangat).
  • Ujian Lingkungan: Lingkungan sosial, tuntutan pekerjaan, hingga godaan media sosial sering kali menjadi penghalang bagi istiqomah.

 

Istiqomah memang berat, karena ia adalah bukti cinta sejati kepada Allah. Ia adalah barometer keimanan yang memisahkan antara yang hanya berangan-angan dengan yang sungguh-sungguh. Setiap peluh, setiap perjuangan, setiap godaan yang kita lalui demi menjaga istiqomah, adalah "harga" yang kita bayar untuk surga yang kekal abadi. Maka, beristiqomahlah, karena hadiahnya adalah surga, ketenangan di hari yang paling menakutkan, dan keridhaan dari Sang Khaliq.

Kamis, 05 Februari 2026

Mengetuk Pintu Langit

 


"Mengetuk Pintu Langit: Mengapa Kita Berharap Surga Namun Enggan Bersujud?"

Renungan Atas Totalitas Ibadah Malaikat dan Impian Khusnul Khotimah

1. Perbandingan yang Menggetarkan: Ibadah Malaikat vs Kelalaian Manusia

Malaikat diciptakan tanpa nafsu, namun mereka memiliki rasa takut (khosyah) yang luar biasa kepada Allah. Sementara manusia, yang dibekali akal dan dijanjikan surga, sering kali merasa "aman" meski ibadahnya bolong-bolong.

Rujukan Al-Qur'an:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

"Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)." (QS. An-Nahl: 50)

Tambahan Pembahasan: Bayangkan, malaikat yang tidak pernah berbuat dosa saja gemetar di hadapan Allah. Lalu, dengan modal apa kita berani bersikap santai dalam ibadah? Kelalaian kita sering kali muncul karena kita merasa "masih punya waktu besok", padahal maut tidak mengenal kalender.

 

2. Rahasia Khusnul Khotimah: "Engkau Wafat di Atas Kebiasaanmu"

Banyak orang mengira khusnul khotimah adalah keberuntungan mendadak di akhir hayat. Padahal, secara syariat, akhir yang baik adalah akumulasi dari ketaatan yang konsisten (istiqomah).

Landasan Hadist:

"Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan keadaan saat ia meninggal dunia." (HR. Muslim)

Pesan Ulama: Para ulama mengatakan, "Seseorang akan meninggal di atas kebiasaan yang ia lakukan saat hidup." Jika kebiasaan kita adalah menunda shalat demi urusan dunia atau gawai, dikhawatirkan di saat sakaratul maut, hati kita pun akan disibukkan oleh hal yang sama, bukan kalimat Laa ilaha illallah.

 

3. Untaian Hikmah Ulama Salaf (Pendahulu yang Saleh)

Mari kita selami lebih dalam kegelisahan para wali Allah terdahulu yang tetap merasa kurang dalam beribadah:

  • Imam Ahmad bin Hanbal: Saat ditanya kapan seorang mukmin bisa beristirahat dari ibadah? Beliau menjawab, "Saat kaki pertamamu melangkah masuk ke dalam surga." Artinya, selama masih ada nafas, tidak ada kata "libur" dalam menghamba.
  • Fudhail bin Iyadh: Beliau pernah menasehati seseorang, "Engkau telah menempuh perjalanan menuju Tuhanmu selama 60 tahun, sebentar lagi engkau akan sampai. Maka perbaikilah sisa umurmu, niscaya Allah ampuni kesalahan masa lalumu."
  • Yahya bin Mu'adz: "Sungguh aneh, ada orang yang menangis karena takut miskin di dunia, tapi ia tidak menangis karena takut masuk neraka."

4. Menyelaraskan Harapan dan Tindakan

Kita sering terjebak dalam fenomena At-Tamanni (berangan-angan tanpa amal). Ingin masuk surga Firdaus, tapi shalat Subuh sering terlewat. Ingin khusnul khotimah, tapi lebih akrab dengan maksiat daripada Al-Qur'an.

Rujukan Al-Qur'an:

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ 

"Pahala Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu..." (QS. An-Nisa: 123)

Kesimpulan: Membeli Surga dengan Sisa Umur

Jika hari ini kita masih diberi nyawa, itu adalah kesempatan dari Allah untuk "mengejar" ketertinggalan kita dari para malaikat. Khusnul khotimah bukan dicari saat kita sudah tua atau sakit, melainkan dipersiapkan saat kita masih sehat dan kuat.

Ibadah adalah investasi, bukan beban. Dan surga adalah hadiah bagi mereka yang membuktikan cintanya kepada Allah lewat sujud-sujud yang panjang dan rahasia.

 

Senin, 26 Januari 2026

Mengejar Cinta Allah

 


Mengejar Cinta Allah: Saat Dunia Tak Lagi Menjadi Ambisi Utama

Dalam hiruk-pikuk modernitas, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan mengumpulkan materi, takhta, dan pujian. Kita sering merasa lelah karena mengejar sesuatu yang tidak pernah memuaskan. "Mengejar Cinta Allah" adalah sebuah konsep di mana kita mengubah orientasi hidup; menjadikan Allah sebagai tujuan akhir, sehingga dunia bukan lagi beban, melainkan sarana.

 

1. Hakikat Dunia: Bayangan yang Tak Pernah Terkejar

Islam tidak melarang kita memiliki harta atau jabatan, namun Islam melarang kita meletakkan dunia di dalam hati. Dunia diibaratkan seperti bayangan: semakin dikejar, ia semakin menjauh. Namun, jika kita berjalan menuju cahaya (Allah), bayangan itu akan mengikuti kita.

Rujukan Al-Qur'an: Allah SWT mengingatkan tentang sifat sementara dunia dalam Surah Al-Hadid:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ... "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak cucu..." (QS. Al-Hadid: 20)

Analisis: Memahami bahwa dunia hanyalah "permainan" membantu kita untuk tidak terlalu sedih saat kehilangan dan tidak terlalu sombong saat mendapatkan. Fokus kita bergeser pada apa yang kekal di sisi-Nya.

 

2. Mencintai Allah Lebih dari Segalanya

Cinta kepada Allah adalah puncak dari segala motivasi. Ketika seseorang telah merasakan manisnya cinta ini, ambisi duniawi yang berlebihan akan luruh dengan sendirinya.

Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda mengenai tiga hal yang membuat seseorang merasakan manisnya iman:

"Tiga perkara yang membuat seseorang merasakan manisnya iman: (1) Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) Benci untuk kembali kepada kekufuran..." (HR. Bukhari & Muslim)

Saat Allah menjadi prioritas utama, keputusan-keputusan hidup kita—mulai dari cara bekerja hingga cara berinteraksi—akan selalu disandarkan pada pertanyaan: "Apakah Allah ridha dengan ini?"

 

3. Dunia yang Mengejar Anda

Paradoks spiritual yang luar biasa adalah: saat Anda berhenti mengejar dunia demi mengejar cinta Allah, dunia justru akan diperintahkan untuk melayani Anda.

Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya." (HR. Tirmidzi)

 

4. Langkah Menuju Cinta-Nya: Zuhud yang Sejati

Zuhud bukan berarti menjadi miskin atau meninggalkan dunia, melainkan melepaskan keterikatan hati.

  • Ridha dengan Ketentuan: Tidak gelisah dengan apa yang belum didapat.
  • Menggunakan Dunia untuk Akhirat: Menjadikan harta sebagai wasilah (perantara) untuk sedekah dan menolong sesama.
  • Wara': Berhati-hati terhadap hal yang syubhat karena takut menjauhkan diri dari cinta Allah.

 

Kesimpulan

Mengejar cinta Allah adalah jalan menuju kemerdekaan yang hakiki. Seseorang yang ambisinya bukan lagi dunia tidak akan bisa diperbudak oleh uang, tidak akan hancur oleh kritik, dan tidak akan sombong oleh pujian. Ia tenang, karena ia tahu bahwa cintanya berlabuh pada Zat yang Maha Kekal.

Ketika Allah menjadi tujuan, dunia hanyalah tempat parkir sementara menuju istana yang sesungguhnya.

Mengejar Cinta Allah: Saat Dunia Tak Lagi Menjadi Ambisi Utama

Dalam hiruk-pikuk modernitas, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan mengumpulkan materi, takhta, dan pujian. Kita sering merasa lelah karena mengejar sesuatu yang tidak pernah memuaskan. "Mengejar Cinta Allah" adalah sebuah konsep di mana kita mengubah orientasi hidup; menjadikan Allah sebagai tujuan akhir, sehingga dunia bukan lagi beban, melainkan sarana.

 

1. Hakikat Dunia: Bayangan yang Tak Pernah Terkejar

Islam tidak melarang kita memiliki harta atau jabatan, namun Islam melarang kita meletakkan dunia di dalam hati. Dunia diibaratkan seperti bayangan: semakin dikejar, ia semakin menjauh. Namun, jika kita berjalan menuju cahaya (Allah), bayangan itu akan mengikuti kita.

Rujukan Al-Qur'an: Allah SWT mengingatkan tentang sifat sementara dunia dalam Surah Al-Hadid:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ... "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak cucu..." (QS. Al-Hadid: 20)

Analisis: Memahami bahwa dunia hanyalah "permainan" membantu kita untuk tidak terlalu sedih saat kehilangan dan tidak terlalu sombong saat mendapatkan. Fokus kita bergeser pada apa yang kekal di sisi-Nya.

 

2. Mencintai Allah Lebih dari Segalanya

Cinta kepada Allah adalah puncak dari segala motivasi. Ketika seseorang telah merasakan manisnya cinta ini, ambisi duniawi yang berlebihan akan luruh dengan sendirinya.

Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda mengenai tiga hal yang membuat seseorang merasakan manisnya iman:

"Tiga perkara yang membuat seseorang merasakan manisnya iman: (1) Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) Benci untuk kembali kepada kekufuran..." (HR. Bukhari & Muslim)

Saat Allah menjadi prioritas utama, keputusan-keputusan hidup kita—mulai dari cara bekerja hingga cara berinteraksi—akan selalu disandarkan pada pertanyaan: "Apakah Allah ridha dengan ini?"

 

3. Dunia yang Mengejar Anda

Paradoks spiritual yang luar biasa adalah: saat Anda berhenti mengejar dunia demi mengejar cinta Allah, dunia justru akan diperintahkan untuk melayani Anda.

Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya." (HR. Tirmidzi)

 

4. Langkah Menuju Cinta-Nya: Zuhud yang Sejati

Zuhud bukan berarti menjadi miskin atau meninggalkan dunia, melainkan melepaskan keterikatan hati.

  • Ridha dengan Ketentuan: Tidak gelisah dengan apa yang belum didapat.
  • Menggunakan Dunia untuk Akhirat: Menjadikan harta sebagai wasilah (perantara) untuk sedekah dan menolong sesama.
  • Wara': Berhati-hati terhadap hal yang syubhat karena takut menjauhkan diri dari cinta Allah.

 

Kesimpulan

Mengejar cinta Allah adalah jalan menuju kemerdekaan yang hakiki. Seseorang yang ambisinya bukan lagi dunia tidak akan bisa diperbudak oleh uang, tidak akan hancur oleh kritik, dan tidak akan sombong oleh pujian. Ia tenang, karena ia tahu bahwa cintanya berlabuh pada Zat yang Maha Kekal.

Ketika Allah menjadi tujuan, dunia hanyalah tempat parkir sementara menuju istana yang sesungguhnya.