Adab di Atas Ilmu: Mengapa Karakter Lebih Penting
dari Sekadar Pintar
Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu tanpa adab
diibaratkan seperti pohon tanpa buah, atau bahkan lebih ekstrem lagi, seperti
api yang siap membakar pemiliknya. Fenomena hari ini menunjukkan banyak orang
memiliki gelar akademik yang tinggi dan kecerdasan luar biasa, namun kehilangan
kendali atas lisan, ego, dan sikapnya.
Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai mengapa
adab harus menjadi fondasi sebelum ilmu:
1. Landasan Al-Qur'an: Tazkiyah
Sebelum Ta'lim
Allah SWT menempatkan proses penyucian jiwa (Tazkiyah) sebelum
pengajaran ilmu (Ta'lim). Ini menunjukkan bahwa wadah (hati/karakter)
harus dibersihkan terlebih dahulu agar ilmu yang masuk tidak menjadi racun.
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ...
"Sebagaimana
Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan mensucikanmu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab
dan Al-Hikmah..." (QS. Al-Baqarah: 151)
Analisis: Urutan "mensucikan" baru
"mengajarkan" adalah isyarat ilahi bahwa karakter yang baik adalah
syarat mutlak agar ilmu membuahkan kebijaksanaan (Hikmah), bukan sekadar
tumpukan informasi.
2. Landasan Hadist: Tujuan Utama
Risalah Kerasulan
Rasulullah SAW secara eksplisit menyatakan bahwa misi utama beliau bukan
hanya memintarkan manusia, melainkan memperbaiki perangai mereka.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya
aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kesalehan akhlak." (HR.
Ahmad & Al-Bukhari)
Beliau juga bersabda:
"Paling berat timbangannya bagi seorang mukmin pada hari kiamat
adalah akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi)
Makna: Orang pintar yang sombong akan kehilangan bobot
amalnya di akhirat. Kepintaran hanyalah sarana, sedangkan akhlak adalah tujuan
akhirnya.
3. Pendekatan Psikologi Islami:
Wadah dan Isi
Dalam psikologi Islami, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bersifat
cahaya (Nur). Agar cahaya tersebut dapat menetap dan menerangi, ia
memerlukan cermin hati yang bersih.
- Regulasi
Ego (An-Nafs): Psikologi Islami menekankan pada pengendalian
Nafs Ammarah (nafsu yang memerintah pada keburukan). Ilmu tanpa
adab cenderung memberi makan pada ego, membuat seseorang merasa lebih
tinggi dari orang lain (narsisme intelektual).
- Kecerdasan
Spiritual (SQ): Karakter adalah manifestasi dari kesehatan
mental dan spiritual. Seseorang yang memiliki adab menunjukkan ia memiliki
kontrol diri (Self-Control) yang baik, empati, dan kerendahan
hati—elemen-elemen yang dalam psikologi modern pun dianggap lebih
menentukan kesuksesan daripada sekadar IQ.
- Keberkahan
Ilmu: Secara psikologis, adab menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif. Orang yang beradab lebih mudah menerima
nasihat, sehingga ilmunya terus tumbuh. Sebaliknya, kesombongan menutup
pintu-pintu pembelajaran baru.
4. Perkataan Ulama Salaf:
Menuntut Adab Puluhan Tahun
Para ulama terdahulu sangat ketat dalam hal ini. Mereka tidak akan
mengizinkan muridnya mempelajari hadist sebelum sang murid memahami cara duduk,
berbicara, dan menghormati guru.
- Imam
Malik bin Anas pernah menasehati seorang pemuda Quraisy:
"Pelajarilah adab sebelum
engkau mempelajari suatu ilmu."
- Abdullah
bin Mubarak rahimahullah berkata:
"Aku belajar adab selama 30
tahun, dan aku belajar ilmu selama 20 tahun. Orang-orang terdahulu belajar adab
terlebih dahulu baru kemudian belajar ilmu."
- Ibnu
Al-Mubarak juga menegaskan:
"Betapa banyak ilmu yang sedikit
namun menjadi besar karena adab, dan betapa banyak ilmu yang banyak namun
menjadi kerdil karena tidak adanya adab."
Kepintaran hanyalah alat, sedangkan adab adalah arah. Tanpa adab,
kepintaran hanya akan melahirkan "penjahat berkerah putih" atau
orang-orang yang gemar memecah belah dengan argumennya. Menjadi Muslim yang
unggul berarti menyeimbangkan antara tajamnya logika dan lembutnya etika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar