Istiqomah Itu Berat, Itulah Kenapa Hadiahnya Surga
Istiqomah, sebuah kata yang sederhana namun
memiliki bobot yang luar biasa dalam Islam. Ia berarti keteguhan hati,
konsistensi, dan keberlanjutan dalam ketaatan kepada Allah SWT, baik dalam
keadaan suka maupun duka. Tidak mengherankan jika Rasulullah SAW bersabda bahwa
istiqomah jauh lebih utama daripada seribu karamah (keajaiban), karena ia
adalah bukti nyata keimanan seseorang. Beratnya istiqomah sebanding dengan
agungnya balasan yang dijanjikan, yaitu surga.
1.
Landasan Al-Qur'an: Janji Ketenangan dan Surga
Allah SWT dengan jelas mengaitkan istiqomah dengan
ketenangan jiwa di dunia dan ganjaran surga di akhirat.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka
beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),
'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan
bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS.
Fussilat: 30)
Analisis: Ayat ini
memberikan jaminan psikologis dan spiritual yang luar biasa. Di saat-saat
paling genting (kematian), orang yang istiqomah akan disambut oleh malaikat
dengan kabar gembira, menghapuskan rasa takut dan sedih, serta langsung
disambut dengan janji surga. Inilah ketenangan sejati yang hanya didapatkan
oleh mereka yang teguh pendiriannya.
2.
Landasan Hadist: Perintah yang Lebih Dicintai Allah
Rasulullah SAW sendiri pernah diminta oleh sahabat
untuk memberikan nasihat yang ringkas namun mencakup segalanya, dan beliau
menjawab dengan perintah istiqomah.
سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ
عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
"Sufyan bin Abdullah
Ats-Tsaqafi berkata: Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku
tentang Islam sebuah perkataan yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada
seorang pun selainmu.' Beliau bersabda, 'Katakanlah: Aku beriman kepada Allah,
kemudian beristiqamahlah'." (HR. Muslim)
Hadist lain juga menunjukkan bahwa amalan yang
sedikit namun kontinyu (istiqomah) lebih dicintai Allah:
"Amalan yang paling dicintai
Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit." (HR.
Bukhari & Muslim)
Makna:
Istiqomah lebih sulit daripada melakukan amal besar sesekali. Melakukan shalat
malam sesekali mungkin mudah, tapi menjaganya setiap malam adalah tantangan.
Menjaga lisan dari ghibah sesaat mungkin bisa, tapi konsisten di setiap
perkataan adalah ujian.
3. Hikmah
dari Ulama Salaf (Pendahulu yang Saleh): Jalan Panjang Penuh Kesabaran
Para ulama terdahulu sering menekankan bahwa
istiqomah adalah inti dari ibadah dan jalan menuju ma'rifatullah
(mengenal Allah).
- Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiyallahu anhu: Beliau menafsirkan istiqomah sebagai "Tidak
menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." Ini menunjukkan bahwa
istiqomah dimulai dari kemurnian tauhid dan konsistensi dalam menjaga
akidah.
- Umar bin Khattab
radhiyallahu anhu: Beliau berkata, "Istiqomah adalah kamu teguh di
atas perintah dan larangan (Allah), dan kamu tidak menyimpang seperti
rubah." Rubah adalah hewan yang licik dan selalu mencari jalan
keluar. Istiqomah berarti tidak mencari-cari alasan untuk menghindar dari
ketaatan.
- Imam Hasan Al-Bashri
rahimahullah: Beliau menjelaskan, "Mereka beristiqamah di atas
ketaatan kepada Allah, mereka tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan."
Ini menggambarkan konsistensi yang teguh tanpa tergoda oleh hawa nafsu
atau godaan dunia.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali
rahimahullah: Dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam, beliau
menjelaskan bahwa istiqomah mencakup istiqomah hati, lisan, dan anggota
badan. Semuanya harus sejalan dalam ketaatan.
4.
Tantangan Beratnya Istiqomah
Mengapa istiqomah itu berat?
- Godaan Nafsu:
Nafsu manusia selalu cenderung pada kesenangan instan dan menunda
kesulitan.
- Bisikan Setan: Setan
tidak pernah berhenti menggoda untuk membuat kita lalai dan futur (lemah
semangat).
- Ujian Lingkungan:
Lingkungan sosial, tuntutan pekerjaan, hingga godaan media sosial sering
kali menjadi penghalang bagi istiqomah.
Istiqomah memang berat, karena ia adalah bukti
cinta sejati kepada Allah. Ia adalah barometer keimanan yang memisahkan antara
yang hanya berangan-angan dengan yang sungguh-sungguh. Setiap peluh, setiap
perjuangan, setiap godaan yang kita lalui demi menjaga istiqomah, adalah "harga"
yang kita bayar untuk surga yang kekal abadi. Maka, beristiqomahlah, karena
hadiahnya adalah surga, ketenangan di hari yang paling menakutkan, dan
keridhaan dari Sang Khaliq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar