Teks Berjalan

Selamat Datang di Blog abuyasin.com Selamat Datang di Blog abuyasin.com

Senin, 09 Februari 2026

Istiqomah

 


Istiqomah Itu Berat, Itulah Kenapa Hadiahnya Surga

Istiqomah, sebuah kata yang sederhana namun memiliki bobot yang luar biasa dalam Islam. Ia berarti keteguhan hati, konsistensi, dan keberlanjutan dalam ketaatan kepada Allah SWT, baik dalam keadaan suka maupun duka. Tidak mengherankan jika Rasulullah SAW bersabda bahwa istiqomah jauh lebih utama daripada seribu karamah (keajaiban), karena ia adalah bukti nyata keimanan seseorang. Beratnya istiqomah sebanding dengan agungnya balasan yang dijanjikan, yaitu surga.

 

1. Landasan Al-Qur'an: Janji Ketenangan dan Surga

Allah SWT dengan jelas mengaitkan istiqomah dengan ketenangan jiwa di dunia dan ganjaran surga di akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

 "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS. Fussilat: 30)

Analisis: Ayat ini memberikan jaminan psikologis dan spiritual yang luar biasa. Di saat-saat paling genting (kematian), orang yang istiqomah akan disambut oleh malaikat dengan kabar gembira, menghapuskan rasa takut dan sedih, serta langsung disambut dengan janji surga. Inilah ketenangan sejati yang hanya didapatkan oleh mereka yang teguh pendiriannya.

 

2. Landasan Hadist: Perintah yang Lebih Dicintai Allah

Rasulullah SAW sendiri pernah diminta oleh sahabat untuk memberikan nasihat yang ringkas namun mencakup segalanya, dan beliau menjawab dengan perintah istiqomah.

سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

"Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi berkata: Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam sebuah perkataan yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada seorang pun selainmu.' Beliau bersabda, 'Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah'." (HR. Muslim)

Hadist lain juga menunjukkan bahwa amalan yang sedikit namun kontinyu (istiqomah) lebih dicintai Allah:

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)

Makna: Istiqomah lebih sulit daripada melakukan amal besar sesekali. Melakukan shalat malam sesekali mungkin mudah, tapi menjaganya setiap malam adalah tantangan. Menjaga lisan dari ghibah sesaat mungkin bisa, tapi konsisten di setiap perkataan adalah ujian.

 

3. Hikmah dari Ulama Salaf (Pendahulu yang Saleh): Jalan Panjang Penuh Kesabaran

Para ulama terdahulu sering menekankan bahwa istiqomah adalah inti dari ibadah dan jalan menuju ma'rifatullah (mengenal Allah).

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu: Beliau menafsirkan istiqomah sebagai "Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." Ini menunjukkan bahwa istiqomah dimulai dari kemurnian tauhid dan konsistensi dalam menjaga akidah.
  • Umar bin Khattab radhiyallahu anhu: Beliau berkata, "Istiqomah adalah kamu teguh di atas perintah dan larangan (Allah), dan kamu tidak menyimpang seperti rubah." Rubah adalah hewan yang licik dan selalu mencari jalan keluar. Istiqomah berarti tidak mencari-cari alasan untuk menghindar dari ketaatan.
  • Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah: Beliau menjelaskan, "Mereka beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah, mereka tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan." Ini menggambarkan konsistensi yang teguh tanpa tergoda oleh hawa nafsu atau godaan dunia.
  • Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah: Dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam, beliau menjelaskan bahwa istiqomah mencakup istiqomah hati, lisan, dan anggota badan. Semuanya harus sejalan dalam ketaatan.

 

4. Tantangan Beratnya Istiqomah

Mengapa istiqomah itu berat?

  • Godaan Nafsu: Nafsu manusia selalu cenderung pada kesenangan instan dan menunda kesulitan.
  • Bisikan Setan: Setan tidak pernah berhenti menggoda untuk membuat kita lalai dan futur (lemah semangat).
  • Ujian Lingkungan: Lingkungan sosial, tuntutan pekerjaan, hingga godaan media sosial sering kali menjadi penghalang bagi istiqomah.

 

Istiqomah memang berat, karena ia adalah bukti cinta sejati kepada Allah. Ia adalah barometer keimanan yang memisahkan antara yang hanya berangan-angan dengan yang sungguh-sungguh. Setiap peluh, setiap perjuangan, setiap godaan yang kita lalui demi menjaga istiqomah, adalah "harga" yang kita bayar untuk surga yang kekal abadi. Maka, beristiqomahlah, karena hadiahnya adalah surga, ketenangan di hari yang paling menakutkan, dan keridhaan dari Sang Khaliq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar