Mengapa Kita Sering Merasa
Kurang? Sebuah Renungan Tentang Seni Bersyukur
Seringkali kita berdiri di depan cermin,
mengeluhkan guratan di wajah atau pakaian yang menurut kita sudah tertinggal
zaman. Kita melihat ke meja makan dan merasa bosan dengan menu yang itu-itu
saja. Bahkan, mungkin kita pernah terbangun dengan perasaan jengah terhadap rutinitas
pekerjaan atau posisi yang kita jalani saat ini.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk
menyadari sebuah kebenaran yang getir sekaligus menampar ini?
Pakaian dan makananmu hari ini
mungkin adalah kemewahan yang diimpikan orang lain. Posisimu saat ini mungkin
adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan orang lain setiap malam. Hidup
yang terkadang kamu keluhkan, bisa jadi adalah impian tertinggi bagi mereka
yang kurang beruntung.
Masalahnya bukan terletak pada apa yang kita
miliki, melainkan pada bagaimana hati kita memandang pemberian tersebut.
1.
Hakikat Syukur dalam Al-Qur'an
Allah SWT telah mengingatkan kita dalam banyak ayat
bahwa kecenderungan manusia adalah kufur (mengingkari nikmat) jika tidak
menjaga hatinya. Namun, bagi mereka yang bersyukur, Allah menjanjikan tambahan
yang luar biasa.
- Janji Penambahan Nikmat:
- "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah
(nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti
azab-Ku sangat berat.'" (QS. Ibrahim: 7)
- Sedikitnya Orang yang Bersyukur:
- "Sangat sedikit dari hamba-hamba-Ku yang
bersyukur." (QS. Saba': 13)
Ayat ini menyadarkan kita bahwa menjadi hamba yang
bersyukur adalah sebuah "keistimewaan" karena tidak semua orang mampu
melakukannya di tengah gempuran ambisi duniawi.
2. Tips
Bahagia dari Rasulullah ﷺ: Lihat ke Bawah!
Salah satu penyakit hati yang membuat kita selalu merasa
kurang adalah kebiasaan memandang ke atas dalam urusan dunia. Rasulullah ﷺ
memberikan obat yang sangat mujarab dalam sebuah hadis:
"Pandanglah orang yang
berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang
orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu tidak akan membuatmu
meremehkan nikmat Allah padamu." (HR. Muslim)
Ketika kita merasa gaji kita kecil, lihatlah mereka
yang masih menganggur. Ketika kita merasa rumah kita sempit, lihatlah mereka
yang tidurnya beratap langit. Di situlah rasa syukur akan mekar.
3.
Mutiara Hikmah Para Ulama
Para ulama salaf memiliki cara pandang yang sangat
jernih terhadap dunia. Mereka tidak membiarkan dunia masuk ke dalam hati, cukup
di tangan saja.
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
pernah berkata: "Syukur adalah membangun kerangka berpikir bahwa
apa yang ada padamu adalah milik Allah, yang diberikan kepadamu tanpa daya
dan kekuatan darimu."
- Hasan Al-Bashri
mengingatkan: "Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada siapa saja
yang Dia kehendaki. Jika nikmat itu tidak disyukuri, maka nikmat tersebut
akan berubah menjadi azab (istidraj)."
Penutup:
Bukan Hidup yang Kurang, Tapi Hati yang Belum Cukup
Kesimpulannya, rasa bahagia tidak datang dari
banyaknya fasilitas, melainkan dari luasnya rasa syukur. Hidup yang kamu benci
hari ini adalah hadiah bagi orang lain. Jangan sampai kita baru menyadari
berharganya sebuah nikmat saat nikmat itu telah dicabut oleh-Nya.
Mari kita berhenti sejenak, menarik napas
dalam-dalam, dan mengucapkan Alhamdulillah untuk setiap detak jantung,
setiap suap nasi, dan setiap helai pakaian yang masih melekat di tubuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar