Teks Berjalan

Selamat Datang di Blog abuyasin.com Selamat Datang di Blog abuyasin.com

Rabu, 11 Februari 2026

Mengapa Kita Sering Merasa Kurang?

  


Mengapa Kita Sering Merasa Kurang? Sebuah Renungan Tentang Seni Bersyukur

Seringkali kita berdiri di depan cermin, mengeluhkan guratan di wajah atau pakaian yang menurut kita sudah tertinggal zaman. Kita melihat ke meja makan dan merasa bosan dengan menu yang itu-itu saja. Bahkan, mungkin kita pernah terbangun dengan perasaan jengah terhadap rutinitas pekerjaan atau posisi yang kita jalani saat ini.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menyadari sebuah kebenaran yang getir sekaligus menampar ini?

Pakaian dan makananmu hari ini mungkin adalah kemewahan yang diimpikan orang lain. Posisimu saat ini mungkin adalah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan orang lain setiap malam. Hidup yang terkadang kamu keluhkan, bisa jadi adalah impian tertinggi bagi mereka yang kurang beruntung.

Masalahnya bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada bagaimana hati kita memandang pemberian tersebut.

 

1. Hakikat Syukur dalam Al-Qur'an

Allah SWT telah mengingatkan kita dalam banyak ayat bahwa kecenderungan manusia adalah kufur (mengingkari nikmat) jika tidak menjaga hatinya. Namun, bagi mereka yang bersyukur, Allah menjanjikan tambahan yang luar biasa.

  • Janji Penambahan Nikmat:
    • "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'" (QS. Ibrahim: 7)
  • Sedikitnya Orang yang Bersyukur:
    • "Sangat sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba': 13)

Ayat ini menyadarkan kita bahwa menjadi hamba yang bersyukur adalah sebuah "keistimewaan" karena tidak semua orang mampu melakukannya di tengah gempuran ambisi duniawi.

2. Tips Bahagia dari Rasulullah ﷺ: Lihat ke Bawah!

Salah satu penyakit hati yang membuat kita selalu merasa kurang adalah kebiasaan memandang ke atas dalam urusan dunia. Rasulullah ﷺ memberikan obat yang sangat mujarab dalam sebuah hadis:

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu tidak akan membuatmu meremehkan nikmat Allah padamu." (HR. Muslim)

Ketika kita merasa gaji kita kecil, lihatlah mereka yang masih menganggur. Ketika kita merasa rumah kita sempit, lihatlah mereka yang tidurnya beratap langit. Di situlah rasa syukur akan mekar.

3. Mutiara Hikmah Para Ulama

Para ulama salaf memiliki cara pandang yang sangat jernih terhadap dunia. Mereka tidak membiarkan dunia masuk ke dalam hati, cukup di tangan saja.

  • Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah berkata: "Syukur adalah membangun kerangka berpikir bahwa apa yang ada padamu adalah milik Allah, yang diberikan kepadamu tanpa daya dan kekuatan darimu."
  • Hasan Al-Bashri mengingatkan: "Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika nikmat itu tidak disyukuri, maka nikmat tersebut akan berubah menjadi azab (istidraj)."

 

Penutup: Bukan Hidup yang Kurang, Tapi Hati yang Belum Cukup

Kesimpulannya, rasa bahagia tidak datang dari banyaknya fasilitas, melainkan dari luasnya rasa syukur. Hidup yang kamu benci hari ini adalah hadiah bagi orang lain. Jangan sampai kita baru menyadari berharganya sebuah nikmat saat nikmat itu telah dicabut oleh-Nya.

Mari kita berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mengucapkan Alhamdulillah untuk setiap detak jantung, setiap suap nasi, dan setiap helai pakaian yang masih melekat di tubuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar