Allah Tidak Memintamu Sempurna, Dia Hanya Memintamu Berproses
Di dunia yang serba cepat ini, kita
sering terjebak dalam tekanan untuk menjadi "sempurna". Sempurna
dalam karier, sempurna sebagai orang tua, hingga sempurna dalam beribadah. Saat
kita gagal atau terjatuh ke dalam lubang kesalahan, kita cenderung menghakimi
diri sendiri dengan sangat keras, seolah pintu ampunan telah tertutup rapat.
Namun, ada satu kebenaran yang
menenangkan: Allah tidak
menuntutmu langsung sempurna, tapi Allah melihat setiap langkah kecilmu untuk
terus berusaha.
1. Manusia: Makhluk yang Diciptakan
dengan Kelemahan
Secara kodrat, manusia bukanlah
malaikat yang tidak memiliki nafsu, bukan pula setan yang tidak memiliki
kebaikan. Kita berada di antaranya. Allah SWT berfirman:
"...dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nisa: 28)
Kelemahan ini bukanlah alasan untuk
menyerah pada dosa, melainkan pengingat bahwa kita selalu butuh sandaran
pada-Nya. Allah tahu kita akan jatuh, itulah sebabnya Dia memperkenalkan
diri-Nya sebagai Al-Ghaffar
(Maha Pengampun) dan At-Tawwab
(Maha Penerima Taubat).
2. Fokus pada Langkah, Bukan Hasil
Akhir
Rasulullah ﷺ sangat mencintai
keistiqamahan (konsistensi), meskipun hal itu terlihat kecil di mata manusia.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan
yang berkelanjutan (konsisten) meskipun sedikit." (HR. Muslim)
Anda tidak harus menghafal Al-Qur'an
dalam semalam. Anda tidak harus langsung menjadi ahli ibadah yang tak pernah
tidur malam. Allah lebih menghargai satu ayat yang Anda baca dengan penuh
perenungan setiap hari, daripada satu khatam yang dipaksakan lalu ditinggalkan
selamanya.
3. Taubat adalah Bentuk Perjalanan
Menuju-Nya
Jika hari ini Anda gagal, jangan
berhenti. Kesempurnaan bukanlah ketiadaan dosa, melainkan bagaimana kita
bangkit setelah berdosa. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan
sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang sering bertaubat." (HR. Tirmidzi)
4. Mutiara Hikmah Ulama: Jangan
Menunggu Suci untuk Melangkah
Sering kali setan membisikkan, "Jangan shalat dulu, kamu masih
banyak dosa," atau "Jangan
pakai hijab dulu, perbaiki dulu hatimu." Ini adalah jebakan.
·
Ibnu
Atha’illah Al-Iskandari dalam Kitab Al-Hikam
memberikan peringatan:
"Keinginanmu
agar orang lain melihatmu sempurna adalah bukti bahwa engkau belum jujur dalam
menghamba kepada Allah." Beliau juga mengajarkan bahwa terkadang kesalahan yang
membuahkan rasa rendah hati (hina diri di hadapan Allah) lebih baik daripada
ketaatan yang membuahkan kesombongan.
·
Imam
Al-Ghazali juga
mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah itu ibarat mendaki gunung.
Terpeleset itu wajar, yang tidak wajar adalah ketika terpeleset, kita memilih
untuk berguling jatuh ke bawah bukannya kembali mendaki.
Kesimpulan: Teruslah Melangkah
Allah tidak menghitung berapa kali
Anda jatuh, Dia menghitung berapa kali Anda bangkit. Agama ini diturunkan untuk
memudahkan, bukan menyulitkan. Selama masih ada denyut nadi, selama itu pula
pintu "proses" terbuka lebar.
Jangan biarkan standar dunia tentang
kesempurnaan menjauhkanmu dari Allah yang Maha Pengasih. Teruslah melangkah,
meskipun terseok-seok, meskipun pelan. Karena di setiap langkah tulusmu, ada
Allah yang sedang menyambutmu dengan kasih sayang-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar