"Mengetuk Pintu Langit: Mengapa Kita Berharap Surga Namun Enggan Bersujud?"
Renungan Atas Totalitas Ibadah
Malaikat dan Impian Khusnul Khotimah
1. Perbandingan yang
Menggetarkan: Ibadah Malaikat vs Kelalaian Manusia
Malaikat diciptakan tanpa nafsu, namun mereka memiliki rasa takut (khosyah)
yang luar biasa kepada Allah. Sementara manusia, yang dibekali akal dan dijanjikan
surga, sering kali merasa "aman" meski ibadahnya bolong-bolong.
Rujukan Al-Qur'an:
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Mereka
takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa di atas mereka dan melaksanakan apa
yang diperintahkan (kepada mereka)." (QS. An-Nahl: 50)
Tambahan Pembahasan: Bayangkan, malaikat yang tidak pernah berbuat dosa
saja gemetar di hadapan Allah. Lalu, dengan modal apa kita berani bersikap
santai dalam ibadah? Kelalaian kita sering kali muncul karena kita merasa
"masih punya waktu besok", padahal maut tidak mengenal kalender.
2. Rahasia Khusnul Khotimah:
"Engkau Wafat di Atas Kebiasaanmu"
Banyak orang mengira khusnul khotimah adalah keberuntungan
mendadak di akhir hayat. Padahal, secara syariat, akhir yang baik adalah
akumulasi dari ketaatan yang konsisten (istiqomah).
Landasan Hadist:
"Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan keadaan saat ia
meninggal dunia." (HR. Muslim)
Pesan Ulama: Para ulama mengatakan, "Seseorang akan
meninggal di atas kebiasaan yang ia lakukan saat hidup." Jika
kebiasaan kita adalah menunda shalat demi urusan dunia atau gawai,
dikhawatirkan di saat sakaratul maut, hati kita pun akan disibukkan oleh hal
yang sama, bukan kalimat Laa ilaha illallah.
3. Untaian Hikmah Ulama Salaf
(Pendahulu yang Saleh)
Mari kita selami lebih dalam kegelisahan para wali Allah terdahulu yang
tetap merasa kurang dalam beribadah:
- Imam
Ahmad bin Hanbal: Saat ditanya kapan seorang mukmin bisa
beristirahat dari ibadah? Beliau menjawab, "Saat kaki pertamamu
melangkah masuk ke dalam surga." Artinya, selama masih ada nafas,
tidak ada kata "libur" dalam menghamba.
- Fudhail
bin Iyadh: Beliau pernah menasehati seseorang, "Engkau
telah menempuh perjalanan menuju Tuhanmu selama 60 tahun, sebentar lagi
engkau akan sampai. Maka perbaikilah sisa umurmu, niscaya Allah ampuni
kesalahan masa lalumu."
- Yahya
bin Mu'adz: "Sungguh aneh, ada orang yang
menangis karena takut miskin di dunia, tapi ia tidak menangis karena takut
masuk neraka."
4. Menyelaraskan Harapan dan
Tindakan
Kita sering terjebak dalam fenomena At-Tamanni (berangan-angan
tanpa amal). Ingin masuk surga Firdaus, tapi shalat Subuh sering terlewat.
Ingin khusnul khotimah, tapi lebih akrab dengan maksiat daripada Al-Qur'an.
Rujukan Al-Qur'an:
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ
"Pahala Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu
yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan
itu..." (QS. An-Nisa: 123)
Kesimpulan: Membeli Surga dengan
Sisa Umur
Jika hari ini kita masih diberi nyawa, itu adalah kesempatan dari Allah
untuk "mengejar" ketertinggalan kita dari para malaikat. Khusnul
khotimah bukan dicari saat kita sudah tua atau sakit, melainkan dipersiapkan
saat kita masih sehat dan kuat.
Ibadah adalah investasi, bukan beban. Dan surga adalah hadiah
bagi mereka yang membuktikan cintanya kepada Allah lewat sujud-sujud yang
panjang dan rahasia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar