Melepaskan Genggaman: Mengapa yang Dipaksakan Jarang Berakhir Indah
Pernahkah Anda merasa seperti sedang berlari di
atas treadmill? Kaki bergerak sekuat tenaga, napas tersengal, keringat
bercucuran, namun saat Anda menoleh ke samping, Anda masih berada di titik yang
sama persis.
Dalam hidup, kita sering terjebak dalam ambisi yang
membabi buta. Kita mengejar sesuatu entah itu karier, cinta, atau pencapaian
tertentu dengan cara mencengkeramnya terlalu kuat. Kita percaya bahwa semakin
keras kita memaksa, semakin cepat dunia akan tunduk pada keinginan kita.
Namun, benarkah demikian?
Bahaya
dari "Ambisi yang Memaksa"
Segala sesuatu yang dipaksakan biasanya kehilangan
esensinya. Bunga yang dipaksa mekar sebelum waktunya akan layu lebih cepat.
Buah yang dikarbit agar matang sering kali kehilangan rasa manis alaminya.
Begitu pula dengan takdir.
Saat kita terlalu mengejar angan hingga mengabaikan
segalanya, kita sebenarnya sedang menunjukkan ketidakpercayaan kita pada
skenario Alloh. Kita merasa seolah-olah hanya kerja keras kitalah yang
menentukan hasil akhir, hingga kita lupa bahwa ada variabel "Izin
Allah" di dalamnya.
Jika
Memang Jalannya, Allah Akan Memperlancar
Ada sebuah ketenangan yang luar biasa saat kita
mulai memahami konsep Barakah dan Ridha. Ketika sesuatu memang
digariskan untuk menjadi milik kita, alam semesta atas izin Allah akan bekerja
dengan cara yang unik untuk mendekatkannya pada kita.
- Pintu-pintu yang Terbuka Sendiri:
Anda akan menemukan kemudahan yang tidak terduga.
- Hati yang Tenang:
Tidak ada rasa cemas yang berlebihan atau ketakutan kehilangan, karena
Anda tahu Anda berada di jalur yang tepat.
- Pertemuan yang Kebetulan:
Orang-orang yang tepat akan datang membantu di saat yang pas.
Bukan berarti kita hanya diam berpangku tangan.
Kita tetap berusaha, namun dengan tangan yang terbuka, bukan tangan yang
mengepal penuh ambisi negatif.
"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah
menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah
melewatkanku." Umar bin Khattab.
Menata
Ulang Niat: Ikhtiar Maksimal, Tawakal Total
Lantas, bagaimana cara membedakan antara
"berjuang" dan "memaksakan"?
1.
Lihat Tandanya: Jika setiap langkah yang Anda
ambil selalu menemui tembok buntu yang menyakitkan dan membuat batin tersiksa,
mungkin itu sinyal untuk berhenti sejenak.
2.
Periksa Keikhlasan: Apakah
Anda mengejar hal tersebut karena butuh, atau hanya karena ego ingin
membuktikan sesuatu pada orang lain?
3.
Libatkan Sang Pemilik Skenario: Jangan
hanya meminta apa yang Anda inginkan dalam doa, tapi mintalah apa yang terbaik
menurut-Nya.
Ingatlah, teman-teman, bahwa hidup bukanlah
perlombaan lari cepat. Terkadang, Allah menjauhkan kita dari apa yang kita
kejar karena Dia tahu ada jurang di depan sana. Atau, Dia sedang menyiapkan
jalan memutar yang pemandangannya jauh lebih indah dan tujuannya jauh lebih
mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar