Menggugat Rasa Aman: Saat Kaki Nabi Bengkak Karena
Syukur, Mengapa Sujud Kita Luntur?
Pernahkah kita terdiam sejenak di sepertiga malam, menatap diri dalam
cermin kejujuran ruhani? Sebuah tamparan keras belakangan ini kerap bergema,
mengusik jiwa yang tertidur: "Nabi yang sudah jelas surga saja bangun
malam untuk tahajud hingga kakinya bengkak-bengkak. Sedangkan Anda, yang
surganya belum jelas, amalannya berantakan, dan hisabnya menegangkan, masih
bisa merasa aman?"
Kalimat ini bukan sekadar susunan kata. Ia adalah sebuah manifesto
spiritual dan lonceng peringatan bagi kita yang sering kali mengidap penyakit al-ghurur
tipu daya diri yang merasa sudah cukup shaleh hanya karena telah menggugurkan
kewajiban fardhu.
Paradoks Rasa Aman Sang Kekasih Allah
Dalam sebuah hadis shahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim, Sayyidah
Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam mendirikan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak dan
pecah-pecah.
Ketika Aisyah bertanya dengan nada iba, "Mengapa engkau
melakukan ini, ya Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang
terdahulu dan yang akan datang?" Manusia agung itu menjawab dengan
kalimat yang menggetarkan arsy:
"Afala akunu
'abdan syakura? Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang banyak
bersyukur?"
Di sinilah letak paradoksnya. Rasulullah manusia yang memegang kunci maqaman
mahmuda (tempat yang terpuji), maksum dari dosa, dan dijamin surga tanpa
hisab justru menjadi manusia yang paling lama berdiri menghadap Allah. Bagi
beliau, ibadah bukan lagi sekadar alat tukar untuk membeli tiket surga. Ibadah
adalah ekspresi cinta tertinggi dan rasa syukur yang tak bertepi kepada Sang
Pencipta.
Panggilan Langit dalam Al-Qur'an
Jika Rasulullah bertahajud atas dasar syukur, Allah Subhanahu wa Ta'ala
menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa shalat malam adalah sarana bagi hamba biasa
seperti kita untuk meraih kemuliaan dan rahmat-Nya. Allah berfirman:
"Dan pada
sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan
bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra': 79)
Kata 'asaa (mudah-mudahan) dalam ayat ini menurut para ulama
tafsir berarti sebuah kepastian dari Allah bagi siapa saja yang
bersungguh-sungguh. Lebih dari itu, Allah memuji orang-orang yang rela
mengorbankan waktu tidurnya demi mencari ridha-Nya:
"Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa
takut dan penuh harap..." (QS.
As-Sajdah: 16)
Ayat ini dengan indah memotret kondisi ideal seorang mukmin: memadukan
antara khauf (rasa takut akan dosa dan hisab yang menegangkan) dengan raja'
(harapan besar akan ampunan Allah).
Cermin Retak Amal Kita
Sekarang, mari kita arahkan pandangan ke dalam dada kita sendiri.
Siapakah kita hingga berani merasa aman?
·
Jaminan Surga yang
Nihil: Kita tidak memiliki selembar pun wahyu yang
menjamin nama kita tertulis di pintu surga.
·
Kualitas Amal yang
Keropos: Shalat kita sering kali kehilangan ruh (khusyuk).
Jasad kita sujud, namun pikiran kita berkelana ke urusan dunia.
·
Hisab yang
Menegangkan: Setiap nikmat
berupa harta, kesehatan, dan waktu luang akan dimintai pertanggungjawaban yang
sangat detail.
Di tengah semua kerapuhan itu, anehnya kita sering kali tidur nyenyak
tanpa beban. Kita merasa "aman-aman saja" saat melewatkan malam demi
malam tanpa bersujud. Ini adalah ilusi spiritual yang mematikan. Kita
bertahajud bukan karena sudah shaleh, melainkan karena kita adalah hamba yang
berdosa dan teramat butuh pertolongan-Nya.
Langkah Nyata: Tips Praktis Mengetuk Pintu Langit
Melawan rasa malas di sepertiga malam membutuhkan strategi nyata.
Berikut adalah langkah praktis yang bisa kita amalkan mulai malam ini:
·
Tidur Lebih Awal: Hindari begadang untuk urusan duniawi yang tidak mendesak selepas
shalat Isya.
·
Pasang Niat Sebelum
Memejamkan Mata: Azamkan dalam hati
dengan tulus bahwa Anda bangun semata-mata karena rindu bersujud kepada Allah.
·
Mulai dari yang Ringan: Jangan langsung memaksakan diri shalat berjam-jam. Mulailah secara
konsisten dengan 2 rakaat shalat tahajud dan ditutup 1 rakaat witir.
·
Hindari Maksiat di
Siang Hari: Seorang ulama
salaf, Sufyan Ats-Tsauri, pernah berkata: "Aku terhalang melakukan
shalat malam selama lima bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan."
Dosa di siang hari adalah pengikat berat yang membuat tubuh lumpuh di waktu
malam.
·
Evaluasi Porsi
Makan Malam: Kurangi porsi
makan yang berlebihan di malam hari agar tubuh tidak terasa berat dan mengantuk
saat terjaga.
Penutup: Mengubah Ketakutan Menjadi Sujud
Sahabatku, renungan ini hadir bukan untuk membuat kita putus asa dari
rahmat Allah. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk membangunkan iman yang
tertidur. Jika Nabi saja bengkak kakinya karena bersyukur, maka kita seharusnya
bersimpuh di sepertiga malam karena butuh ampunan-Nya untuk menutupi amal kita
yang berantakan.
Malam ini, saat dunia sunyi dan manusia terlelap, bangunlah. Ambil air
wudhu, lalu tegakkan shalat. Tumpahkan segala air mata aduan di atas sajadah
dan katakan: "Ya Rabb, aku adalah hamba-Mu yang miskin amal, namun aku
datang mengetuk pintu-Mu." Jangan biarkan malam berlalu tanpa ada satu
pun jejak sujud rahasia antara Anda dan Allah. Wallahu musta'an.