Mengejar Cinta Allah: Saat
Dunia Tak Lagi Menjadi Ambisi Utama
Dalam hiruk-pikuk modernitas,
manusia sering kali terjebak dalam perlombaan mengumpulkan materi, takhta, dan
pujian. Kita sering merasa lelah karena mengejar sesuatu yang tidak pernah
memuaskan. "Mengejar Cinta Allah" adalah sebuah konsep di mana kita
mengubah orientasi hidup; menjadikan Allah sebagai tujuan akhir, sehingga dunia
bukan lagi beban, melainkan sarana.
1. Hakikat Dunia: Bayangan
yang Tak Pernah Terkejar
Islam tidak melarang kita
memiliki harta atau jabatan, namun Islam melarang kita meletakkan dunia di
dalam hati. Dunia diibaratkan seperti bayangan: semakin dikejar, ia semakin
menjauh. Namun, jika kita berjalan menuju cahaya (Allah), bayangan itu akan
mengikuti kita.
Rujukan Al-Qur'an:
Allah SWT mengingatkan tentang sifat sementara dunia dalam Surah Al-Hadid:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ
وَالْأَوْلَادِ... "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara
kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak cucu..." (QS. Al-Hadid:
20)
Analisis:
Memahami bahwa dunia hanyalah "permainan" membantu kita untuk tidak
terlalu sedih saat kehilangan dan tidak terlalu sombong saat mendapatkan. Fokus
kita bergeser pada apa yang kekal di sisi-Nya.
2. Mencintai Allah Lebih dari
Segalanya
Cinta kepada Allah adalah
puncak dari segala motivasi. Ketika seseorang telah merasakan manisnya cinta
ini, ambisi duniawi yang berlebihan akan luruh dengan sendirinya.
Rujukan Hadist:
Rasulullah SAW bersabda mengenai tiga hal yang membuat seseorang merasakan
manisnya iman:
"Tiga perkara yang
membuat seseorang merasakan manisnya iman: (1) Menjadikan Allah dan Rasul-Nya
lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Mencintai seseorang hanya karena
Allah, dan (3) Benci untuk kembali kepada kekufuran..." (HR.
Bukhari & Muslim)
Saat Allah menjadi prioritas
utama, keputusan-keputusan hidup kita—mulai dari cara bekerja hingga cara
berinteraksi—akan selalu disandarkan pada pertanyaan: "Apakah Allah
ridha dengan ini?"
3. Dunia yang Mengejar Anda
Paradoks spiritual yang luar
biasa adalah: saat Anda berhenti mengejar dunia demi mengejar cinta Allah,
dunia justru akan diperintahkan untuk melayani Anda.
Rujukan Hadist:
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang
menjadikan akhirat sebagai ambisinya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya di
dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam
keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka
Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya,
dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan
untuknya." (HR. Tirmidzi)
4. Langkah Menuju Cinta-Nya: Zuhud
yang Sejati
Zuhud bukan berarti menjadi
miskin atau meninggalkan dunia, melainkan melepaskan keterikatan hati.
- Ridha dengan Ketentuan:
Tidak gelisah dengan apa yang belum didapat.
- Menggunakan Dunia untuk Akhirat:
Menjadikan harta sebagai wasilah (perantara) untuk sedekah dan menolong
sesama.
- Wara': Berhati-hati
terhadap hal yang syubhat karena takut menjauhkan diri dari cinta Allah.
Kesimpulan
Mengejar cinta Allah adalah
jalan menuju kemerdekaan yang hakiki. Seseorang yang ambisinya bukan lagi dunia
tidak akan bisa diperbudak oleh uang, tidak akan hancur oleh kritik, dan tidak
akan sombong oleh pujian. Ia tenang, karena ia tahu bahwa cintanya berlabuh
pada Zat yang Maha Kekal.
Ketika Allah menjadi tujuan,
dunia hanyalah tempat parkir sementara menuju istana yang sesungguhnya.
Mengejar Cinta Allah: Saat Dunia
Tak Lagi Menjadi Ambisi Utama
Dalam hiruk-pikuk modernitas, manusia sering kali terjebak dalam
perlombaan mengumpulkan materi, takhta, dan pujian. Kita sering merasa lelah
karena mengejar sesuatu yang tidak pernah memuaskan. "Mengejar Cinta
Allah" adalah sebuah konsep di mana kita mengubah orientasi hidup;
menjadikan Allah sebagai tujuan akhir, sehingga dunia bukan lagi beban,
melainkan sarana.
1. Hakikat Dunia: Bayangan yang Tak
Pernah Terkejar
Islam tidak melarang kita memiliki harta atau jabatan, namun Islam
melarang kita meletakkan dunia di dalam hati. Dunia diibaratkan seperti
bayangan: semakin dikejar, ia semakin menjauh. Namun, jika kita berjalan menuju
cahaya (Allah), bayangan itu akan mengikuti kita.
Rujukan Al-Qur'an: Allah SWT mengingatkan tentang sifat sementara
dunia dalam Surah Al-Hadid:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ... "Ketahuilah,
sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan
dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak
cucu..." (QS. Al-Hadid: 20)
Analisis: Memahami bahwa dunia hanyalah
"permainan" membantu kita untuk tidak terlalu sedih saat kehilangan
dan tidak terlalu sombong saat mendapatkan. Fokus kita bergeser pada apa yang
kekal di sisi-Nya.
2. Mencintai Allah Lebih dari
Segalanya
Cinta kepada Allah adalah puncak dari segala motivasi. Ketika seseorang
telah merasakan manisnya cinta ini, ambisi duniawi yang berlebihan akan luruh
dengan sendirinya.
Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda mengenai tiga hal yang
membuat seseorang merasakan manisnya iman:
"Tiga perkara yang membuat seseorang merasakan manisnya iman: (1)
Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2)
Mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) Benci untuk kembali kepada
kekufuran..." (HR. Bukhari & Muslim)
Saat Allah menjadi prioritas utama, keputusan-keputusan hidup kita—mulai
dari cara bekerja hingga cara berinteraksi—akan selalu disandarkan pada
pertanyaan: "Apakah Allah ridha dengan ini?"
3. Dunia yang Mengejar Anda
Paradoks spiritual yang luar biasa adalah: saat Anda berhenti mengejar
dunia demi mengejar cinta Allah, dunia justru akan diperintahkan untuk melayani
Anda.
Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya, maka Allah
akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia
akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan
dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya,
mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang
telah ditakdirkan untuknya." (HR. Tirmidzi)
4. Langkah Menuju Cinta-Nya: Zuhud
yang Sejati
Zuhud bukan berarti menjadi miskin atau meninggalkan dunia, melainkan melepaskan
keterikatan hati.
- Ridha
dengan Ketentuan: Tidak gelisah dengan apa yang belum didapat.
- Menggunakan
Dunia untuk Akhirat: Menjadikan harta sebagai wasilah (perantara)
untuk sedekah dan menolong sesama.
- Wara':
Berhati-hati terhadap hal yang syubhat karena takut menjauhkan diri dari
cinta Allah.
Kesimpulan
Mengejar cinta Allah adalah jalan menuju kemerdekaan yang hakiki.
Seseorang yang ambisinya bukan lagi dunia tidak akan bisa diperbudak oleh uang,
tidak akan hancur oleh kritik, dan tidak akan sombong oleh pujian. Ia tenang,
karena ia tahu bahwa cintanya berlabuh pada Zat yang Maha Kekal.
Ketika Allah menjadi tujuan, dunia hanyalah tempat parkir sementara
menuju istana yang sesungguhnya.