Menemukan Cahaya di Tengah Kegelapan: Makna Ujian
dalam Pandangan Allah
Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti akan melewati fase
"kegelapan"baik itu berupa kehilangan, kegagalan, sakit, maupun
kesulitan ekonomi. Seringkali kita bertanya, "Mengapa ini terjadi
padaku?" Namun, dalam perspektif Islam, ujian bukanlah tanda kebencian
Allah, melainkan bentuk komunikasi kasih sayang-Nya untuk mengangkat derajat
seorang hamba.
1. Ujian adalah Sunnatullah
(Ketentuan Allah)
Langkah pertama untuk menemukan cahaya adalah menyadari bahwa ujian
adalah paket tak terelakkan dalam kehidupan. Dunia bukanlah tempat untuk
istirahat total, melainkan tempat pembuktian iman.
Rujukan Al-Qur'an: Allah SWT menegaskan hal ini dalam Surah
Al-Baqarah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ
الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ "Dan
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang
yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Analisis: Ayat ini menggunakan kata bi syai-in
(dengan sedikit), yang menunjukkan bahwa sebesar apa pun ujian kita, itu
sebenarnya hanya sebagian kecil dari rahmat Allah yang luas. Cahaya ditemukan
ketika kita fokus pada "kabar gembira" di akhir ayat bagi mereka yang
sabar.
2. Ujian sebagai Tanda Kasih
Sayang dan Penggugur Dosa
Salah satu rujukan paling menguatkan bagi orang yang sedang terhimpit
masalah adalah memahami bahwa rasa sakit yang dirasakan tidaklah sia-sia.
Setiap tetes air mata dan sesak di dada memiliki nilai di sisi Allah.
Rujukan Hadist: Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya,
melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya bersamanya sebagaimana
pohon menggugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist lain, Nabi SAW juga menyebutkan bahwa jika Allah mencintai
suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Jadi, ujian adalah
"undangan" dari Allah agar kita kembali bersimpuh di hadapan-Nya.
3. Di Balik Kesulitan, Ada
Kemudahan yang Berlipat
Allah tidak memberikan beban tanpa memberikan jalan keluar. Menariknya,
dalam Al-Qur'an, Allah menjanjikan bahwa kemudahan itu datang bersamaan
dengan kesulitan, bukan hanya setelahnya.
Rujukan Al-Qur'an:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا "Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Para ulama menjelaskan bahwa dalam struktur bahasa Arab ayat tersebut,
satu kesulitan (al-'usr) diapit oleh dua kemudahan (yusran).
Artinya, cahaya kemudahan selalu lebih besar daripada kegelapan ujian itu
sendiri.
4. Mengubah Mindset: Ujian
sebagai Proses "Tarqiyah" (Kenaikan Kelas)
Ibarat emas yang harus dibakar dalam suhu tinggi untuk memisahkan
kotoran dan menjadi murni, demikian pula jiwa manusia. Ujian adalah proses Tazkiyatun
Nafs (penyucian jiwa) dan Tarqiyah (kenaikan derajat).
- Ujian
sebagai Pengingat: Mengembalikan kita yang mungkin sempat lalai.
- Ujian
sebagai Pelindung: Terkadang Allah menjauhkan sesuatu yang kita
inginkan melalui sebuah "kegagalan" karena Allah tahu hal itu
buruk bagi masa depan kita.
- Ujian
sebagai Pahala Tanpa Batas: Pahala sabar adalah salah
satu yang tidak disebutkan batasannya secara spesifik karena saking
besarnya.
Kesimpulan
Menemukan cahaya di tengah kegelapan berarti mengubah sudut pandang.
Kita tidak lagi melihat ujian sebagai beban, melainkan sebagai cermin.
Cermin untuk melihat sejauh mana kekuatan iman kita dan seberapa besar
ketergantungan kita kepada Allah.
Saat dunia terasa gelap, ingatlah bahwa bintang-bintang hanya bisa
terlihat saat langit sedang gelap gulita. Begitu juga cahaya pertolongan Allah,
ia akan tampak paling terang saat kita merasa berada di titik terendah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar