Tawakal: Kunci Langit untuk Menyelesaikan Segala Urusan Bumi
Dalam perjalanan hidup, kita sering kali merasa
cemas. Cemas tentang masa depan, cemas tentang kecukupan rezeki, hingga cemas
tentang urusan-urusan yang tampak buntu. Di saat-saat seperti itulah, satu kata
hadir sebagai jangkar bagi jiwa yang goyah: Tawakal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam
penggalan ayat yang sangat menenangkan:
"...Dan barangsiapa
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan
ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq: 3).
Mari kita bedah mengapa tawakal adalah strategi
terbaik dalam menghadapi dinamika kehidupan.
1.
Jaminan Kecukupan dari Sang Maha Kaya
Janji Allah dalam ayat tersebut sangat lugas: "Niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." Kata "mencukupkan"
di sini tidak hanya berarti materi, tetapi juga ketenangan hati, solusi yang
tak terduga, dan perlindungan dari marabahaya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menggambarkan dahsyatnya tawakal melalui perumpamaan seekor burung:
"Seandainya kalian
bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah
akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor
burung. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam
keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi).
2. Allah-lah
yang Menuntaskan Segala Urusan
Seringkali kita merasa lelah karena merasa harus
menyelesaikan semuanya sendiri. Kita lupa bahwa kita hanyalah perantara,
sementara penuntas segala perkara adalah Allah. Kalimat "Sesungguhnya
Allah melaksanakan urusan-Nya" memberikan pesan bahwa tidak ada satu
pun rencana Allah yang gagal. Jika Allah berkehendak suatu urusan selesai, maka
tidak ada satu pun kekuatan di bumi yang bisa menghambatnya.
3.
Ketentuan yang Tak Pernah Salah Alamat
Allah menutup ayat tersebut dengan mengingatkan
bahwa "Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu." Ini
adalah obat bagi rasa iri dan kecewa. Segala sesuatu baik itu pertemuan,
perpisahan, kesuksesan, maupun kegagalan sudah ada ukurannya (kadarnya).
Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,
menjelaskan hakikat ini dengan sangat indah:
"Seandainya seorang hamba
mengetahui bagaimana Allah mengatur urusan hidupnya, niscaya dia akan tahu
bahwa Allah lebih menyayanginya daripada ibunya sendiri, dan niscaya hatinya
akan hancur karena cinta kepada Allah."
4.
Tawakal Bukan Berarti Diam
Satu hal yang perlu kita pahami adalah tawakal
tidak menafikan ikhtiar (usaha). Para ulama mengajarkan bahwa tawakal adalah
"pekerjaan hati", sementara ikhtiar adalah "pekerjaan anggota
tubuh".
Imam Al-Ghazali dalam Ihya
Ulumuddin menekankan bahwa seseorang yang meninggalkan usaha justru
menyalahi sunnatullah. Tawakal sejati adalah mengikat unta dengan kuat, lalu
menyerahkan keselamatannya kepada Allah.
Penutup: Melepas Lelah, Menjemput
Berkah
Menyerahkan urusan kepada Allah bukan berarti kita
menyerah pada keadaan. Itu berarti kita mengakui keterbatasan kita sebagai
manusia dan mengakui kemahakuasaan Allah. Saat kita berkata, "Hasbunallahu
wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah menjadi penolong kami), saat itulah
beban di pundak kita berpindah ke dalam penjagaan-Nya yang sempurna.
Apapun urusan yang sedang Anda hadapi hari ini entah
itu berat atau ringan cobalah untuk melepasnya sejenak dan berkata, "Ya
Allah, urusan ini milik-Mu, maka tuntaskanlah dengan cara-Mu yang paling
indah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar