Mengetuk Pintu Langit: Mengapa Tidak Ada yang Mustahil dalam Doa?
Pernahkah Anda merasa ragu untuk meminta sesuatu
kepada Allah karena hal tersebut terasa terlalu besar, terlalu jauh, atau
bahkan mustahil secara logika? Kita sering kali membatasi doa kita
berdasarkan kemampuan kita sendiri, padahal doa adalah urusan antara hamba yang
lemah dengan Sang Pencipta yang Maha Kuasa.
Kutipan indah mengatakan:
"Jangan takut berdoa untuk
sesuatu yang terlihat mustahil bagimu, karena Allah punya banyak cara untuk
mengabulkan itu."
Mari kita bedah mengapa optimisme dalam berdoa
adalah kewajiban seorang mukmin.
1.
Landasan Al-Qur'an: "Kun Fayakun"
Allah SWT telah menegaskan berkali-kali dalam
Al-Qur'an bahwa batasan manusia bukanlah batasan bagi-Nya. Salah satu kisah
paling menakjubkan adalah doa Nabi Zakaria AS yang meminta keturunan di usia
senja saat istrinya mandul.
Allah berfirman:
“Dia (Allah) berfirman,
‘Demikianlah.’ Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah
Aku ciptakan sebelum itu, padahal (waktu itu) engkau belum berwujud sama
sekali.’” (QS. Maryam: 9)
Ayat ini adalah pengingat bahwa bagi Allah,
menciptakan sesuatu dari ketiadaan adalah hal yang mudah, apalagi sekadar
mengabulkan permintaan kita yang sudah ada jalannya.
2. Hadist
Nabi: Allah Sesuai Prasangka Hamba-Nya
Rasa takut atau ragu dalam berdoa sebenarnya adalah
bentuk prasangka kurang baik kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah
Hadist Qudsi:
"Allah Ta’ala berfirman: Aku
sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku." (HR.
Bukhari & Muslim)
Jika kita yakin Allah mampu, maka Allah akan
menunjukkan kebesaran-Nya. Sebaliknya, jika kita berdoa dengan hati yang ragu,
kita seolah menutup pintu keajaiban itu sendiri.
3.
Mutiara Hikmah Para Ulama
Para ulama salaf terdahulu mengajarkan kita untuk
memiliki "himmah" (tekad) yang tinggi dalam berdoa.
- Umar bin Khattab RA
pernah berkata:
"Aku
tidak mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang aku
khawatirkan adalah jika aku tidak diberi hidayah untuk berdoa. Jika aku diberi
taufik untuk berdoa, maka pengabulan itu akan menyertainya."
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
menjelaskan bahwa doa adalah senjata yang paling kuat, namun kekuatan
senjata tergantung pada siapa yang memakainya. Keyakinan penuh (yaqin)
adalah bensin utama agar doa tersebut melesat ke langit.
Mengapa
Kita Sering Merasa Mustahil?
Logika manusia terbatas pada sebab-akibat
(kausalitas). Kita berpikir jika tidak punya uang, tidak mungkin bisa naik
haji. Jika penyakit sudah stadium lanjut, tidak mungkin bisa sembuh.
Namun, Allah adalah Al-Musabbib (Pencipta
sebab). Dia bisa menciptakan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka (min
haitsu la yahtasib).
Kesimpulan
Jangan biarkan setan membisikkan bahwa permintaanmu
terlalu besar. Bagi Allah, mengabulkan seluruh permintaan penduduk bumi
sekaligus tidak akan mengurangi kekayaan-Nya sedikit pun, ibarat mencelupkan
jarum ke dalam samudera.
Tugas kita hanya satu: Berdoa
dengan yakin, lalu biarkan Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar