Mengetuk Pintu Terakhir: Renungan Di Ambang Perpisahan dengan Ramadhan
Waktu laksana air yang mengalir di sela-sela
jemari. Tanpa kita sadari, Ramadhan yang kita sambut dengan gegap gempita, kini
sudah berada di pengujung jalan. Seiring dengan tenggelamnya matahari di
hari-hari terakhir ini, ada rasa sesak yang menghimpit dada—sebuah tanya yang
tak kunjung usai: "Sudahkah aku menjadi hamba yang layak?"
Di tengah hiruk-pikuk persiapan hari kemenangan,
mari kita sejenak menepi. Menundukkan kepala, mengangkat tangan, dan
melangitkan doa-doa yang paling jujur.
Mengharap
Penerimaan di Balik Kelemahan
Kita memulai doa kita dengan penuh ketundukan:
“Yaa Allah, terimalah puasa kami,
terimalah sujud dan ruku' kami. Dengan rahmatMu wahai Tuhan semesta alam.”
Sebagai manusia, ibadah kita jauh dari kata sempurna.
Mungkin saat puasa, lisan kita masih tergelincir pada ghibah. Mungkin saat
sujud, pikiran kita masih melayang pada urusan dunia. Namun, kita bersandar
pada satu hal: Rahmat Allah. Tanpa rahmat-Nya, amal kita hanyalah debu.
Kita memohon bukan karena merasa amal kita sudah cukup, tapi karena kita tahu
Dia Maha Menerima hamba yang berusaha.
Mengetuk
Pintu Al-Afuww (Maha Pemaaf)
Di malam-malam terakhir, tidak ada kata yang lebih
indah selain pengakuan akan kehinaan diri.
“Ya Allah, sesunggunya Engkau Maha
Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah kami...”
Inilah doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada
Aisyah RA. Ada perbedaan halus namun mendalam antara Maghfirah (Ampunan)
dan Afu (Maaf). Ampunan berarti dosa kita ditutupi, namun Afu
berarti dosa kita dihapus bersih dari catatan malaikat seolah-olah kita
tidak pernah melakukannya. Kita meminta agar Allah Sang Maha Pemurah di antara
segalanya menghapus noda hitam di hati kita.
Mengurai
Dosa yang Tak Terhitung
Kadang kita merasa suci hanya karena dosa kita
tidak terlihat oleh manusia. Namun, dalam heningnya renungan, kita akui:
- Dosa yang telah lalu dan yang akan datang.
- Dosa yang kita sembunyikan dalam gelap, maupun
yang terang-terangan di depan orang.
- Bahkan dosa-dosa yang kita lupakan, namun
tercatat rapi di sisi Allah.
Kita sadar bahwa Allah lebih mengetahui diri kita
daripada kita sendiri. Maka, di ambang perpisahan Ramadhan ini, permohonan
ampun adalah satu-satunya jembatan menuju keselamatan.
Penutup:
Dia Maha Dekat
Jangan pernah merasa doa kita hanya memantul di
langit-langit kamar.
“Sesungguhnya Engkau yang Maha
Mendengar lagi Maha Dekat.”
Ramadhan mungkin akan segera pergi, namun Tuhan
pemilik Ramadhan tidak akan pernah pergi. Dia sedekat urat leher kita. Dia
mendengar rintihan hati yang hancur karena penyesalan.
Mari kita tutup lembaran Ramadhan
ini bukan dengan euforia yang berlebihan, melainkan dengan air mata taubat dan
harapan agar kita dipertemukan kembali di tahun depan dalam keadaan yang lebih
baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar