Menemukan Kedamaian di Balik Riuhnya Dunia: Mengapa Kita Masih Khawatir?
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ada satu
penyakit hati yang diam-diam menjangkiti hampir setiap dari kita: kekhawatiran
yang berlebihan. Kita cemas tentang tagihan bulan depan, risau tentang
karier yang stagnan, dan didera ketakutan luar biasa saat membayangkan masa
depan yang penuh ketidakpastian. Waktu kita habis untuk memikirkan hal-hal yang
belum tentu terjadi, hingga kita lupa cara menikmati hari ini dengan penuh
syukur.
Padahal, sebagai seorang Muslim, kita memiliki
"jangkar" yang luar biasa kuat. Mari kita renungkan kembali untaian
kalimat penyejuk jiwa berikut:
Jangan khawatir urusan dunia,
karena dunia milik Allah.
Jangan khawatir urusan rezeki,
karena rezeki dari Allah.
Jangan khawatir perkara masa
depan, karena masa depan ada di tangan Allah.
Cukup khawatirkan satu hal: Bagaimana
agar Allah ridha kepadamu.
Mengapa kita bisa begitu tenang jika memegang
prinsip ini? Mari kita bedah jalurnya satu per satu melalui tuntunan Al-Qur'an,
Hadis, dan hikmah para ulama.
1. Dunia
Ini Milik Allah, Mengapa Harus Lelah Mengejarnya
Kita sering kali stres karena memperlakukan dunia
seolah-olah kita adalah pemilik mutlak atas apa yang kita usahakan. Kita lupa
bahwa dunia dan segala isinya hanyalah panggung sandiwara yang sementara.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan
kepemilikan-Nya dalam Al-Qur'an:
"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi."
QS. Al-Baqarah: 284
Jika Pemilik alam semesta ini adalah Tuhan yang
Maha Pengasih, mengapa kita harus merasa yatim piatu di dunia ini? Syaikh Ibnu
Ata'illah al-Iskandari dalam kitab masterpiecenya, Al-Hikam, memberikan
tamparan keras sekaligus obat bagi jiwa kita:
"Istirahatkan dirimu dari
ikut mengatur urusanmu. Apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu,
janganlah engkau sibuk memikirkannya sehingga melalaikan kewajibanmu."
Bekerja dan berusaha adalah ibadah, namun
membiarkan dunia menguasai hati hingga memicu kecemasan akut adalah sebuah
kekeliruan iman.
2. Rezeki
Telah Tertakar, Tidak Akan Tertukar
Salah satu sumber kecemasan terbesar manusia adalah
urusan isi dompet dan keberlangsungan hidup. Kita takut kekurangan, takut
miskin, dan takut tidak bisa makan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menenangkan hati kita melalui sabdanya yang sangat menyentuh:
"Sesungguhnya Ruhul Qudus
(Malaikat Jibril) membisikkan dalam hatiku bahwa sesungguhnya sejiwa makhluk
tidak akan mati demi urusannya sebelum disempurnakan rezekinya. Maka
bertawakallah kepada Allah dan perindahlah dalam mencarinya."
HR. Ibnu Hibban
Logikanya sederhana: Jika jatah rezeki kita
belum habis di dunia, Allah tidak akan memanggil kita pulang.
Motivator Islam internasional, Yasmin Mogahed,
pernah menuliskan sebuah analogi yang indah: "Seringkali kita khawatir
tentang apa yang tidak kita miliki, sampai kita lupa melihat apa yang sudah ada
di depan mata. Rezeki itu seperti bayanganmu. Jika kau mengejarnya, ia akan
lari. Tapi jika kau berjalan menuju cahaya (Allah), ia akan mengikutimu dari
belakang."
3. Masa
Depan Berada di Tangan-Nya
Kita sering kali meramal masa depan dengan
skenario-skenario terburuk yang kita ciptakan sendiri di dalam kepala. Bagaimana
kalau saya gagal? Bagaimana kalau anak-anak saya telantar?
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah (Muhammad),
'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.
Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus
bertawakal.'"QS. At-Tubah: 51
Masa depan adalah gaib, dan yang gaib adalah
otoritas mutlak Allah. Menghabiskan energi hari ini untuk mencemaskan hari esok
sama saja dengan mengambil porsi tugas yang bukan milik kita. Tugas kita
hanyalah melakukan yang terbaik hari ini (do your best), lalu biarkan
Allah melakukan sisanya (let Allah do the rest).
4.
Satu-Satunya Kekhawatiran yang Benar: Mengejar Ridha-Nya
Jika dunia, rezeki, dan masa depan sudah dijamin
oleh Allah, lalu apa yang tersisa untuk kita khawatirkan?
Khawatirkanlah bagaimana
pandangan Allah terhadap kita. Apakah shalat kita sudah
diterima? Apakah harta yang kita beri makan untuk keluarga didapat dari cara
yang halal? Apakah Allah ridha saat melihat kita menghabiskan waktu berjam-jam
di media sosial namun enggan membaca kalam-Nya?
Hasan al-Bashri, seorang ulama tabiin yang
terkemuka, pernah berkata dengan sangat mendalam:
"Aku tahu rezekiku tidak
akan diambil oleh orang lain, karena itu hatiku tenang. Aku tahu amalku tidak
akan dilakukan oleh orang lain, karena itu aku sibuk beramal. Dan aku tahu
Allah selalu melihatku, karena itu aku malu jika Dia melihatku dalam
kemaksiatan."
Ketika fokus hidup kita bergeser dari "Bagaimana
agar dunia menerima saya" menjadi "Bagaimana agar Allah rida
kepada saya", maka secara ajaib Allah akan mencukupkan seluruh urusan
dunia kita.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjanjikan hal ini dalam sebuah hadis yang sangat kuat:
"Barangsiapa yang menjadikan
dunia sebagai ambisi utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan
menjadikan kemiskinan membayang di matanya, padahal dunia tidak datang
kepadanya melainkan apa yang telah ditakdirkan baginya. Dan barangsiapa yang
menjadikan akhirat sebagai niatnya (fokusnya), maka Allah akan menyatukan
urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia akan datang
kepadanya dalam keadaan tunduk."HR. Ibnu Majah
Kesimpulan:
Pulanglah ke Pelukan Takdir-Nya
Sahabatku, tarik napas dalam-dalam, dan lepaskan
segala beban yang menggelayuti pundakmu. Dunia ini terlalu kecil untuk membuat
hatimu yang berharga itu hancur karena kecemasan.
Mulai hari ini, mari kita ubah arah kiblat
kekhawatiran kita. Jangan lagi bertanya, "Bagaimana nasib masa
depanku?" melainkan bertanyalah, "Bagaimana nasib
akhiratku?"
Ketika kita berhasil menaruh ridha Allah di atas
segala-galanya, maka ketenangan sejati yang selama ini kita cari di dalam
materi akan turun bersemi di dalam hati. Sebab, bagi seorang hamba yang
dicintai Penciptanya, kehilangan dunia bukanlah apa-apa, namun kehilangan ridha
Allah adalah kehilangan segalanya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar