JANGAN SIBUK MENUNGGU PUJIAN ATAS KEBAIKANMU

 


JANGAN SIBUK MENUNGGU PUJIAN ATAS KEBAIKANMU

Jika kebaikanmu dilakukan karena Allah, mengapa harus gelisah ketika manusia tidak melihatnya?

 

Ada satu hal yang sering tidak kita sadari ketika berbuat baik: kita ingin kebaikan itu diketahui.

 

Kita membantu seseorang, lalu berharap ia mengingatnya. Kita berkorban, lalu berharap suatu hari ada yang mengucapkan terima kasih. Kita memberikan sesuatu, lalu diam-diam menunggu penghargaan.

 

Ketika semua itu tidak datang, hati mulai bertanya-tanya.

 

“Mengapa tidak ada yang menghargai?”

 

“Mengapa kebaikanku dilupakan?”

 

“Padahal aku sudah banyak berkorban.”

 

Tanpa sadar, kita mulai kecewa bukan karena kehilangan pahala, tetapi karena kehilangan pengakuan manusia.

 

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

 

“Sebenarnya, untuk siapa aku melakukan kebaikan ini?”

 

Jika jawabannya adalah Allah, maka seharusnya kita tidak terlalu gelisah ketika manusia tidak melihatnya.

 

Sebab manusia mungkin lupa, tetapi Allah tidak pernah lupa.

 

Manusia mungkin tidak mengetahui, tetapi Allah mengetahui.

 

Manusia mungkin tidak menghargai, tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

 

Allah Melihat Kebaikan yang Tidak Dilihat Manusia

 

Manusia hanya mampu melihat apa yang tampak.

 

Mereka melihat tangan kita ketika memberi, tetapi tidak melihat niat yang ada di dalam hati.

 

Mereka melihat kita membantu, tetapi tidak mengetahui berapa banyak yang harus kita korbankan.

 

Mereka melihat senyum kita, tetapi tidak mengetahui air mata yang kita sembunyikan.

 

Mereka mungkin tidak pernah tahu tentang kebaikan yang kita lakukan dalam diam.

 

Namun Allah mengetahui semuanya.

 

Allah berfirman:

 

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ

 

“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan memperolehnya di sisi Allah.”

 

(QS. Al-Baqarah: 110)

 

Perhatikan kalimat terakhir dari ayat tersebut:

 

“...kamu akan memperolehnya di sisi Allah.”

 

Bukan di sisi manusia.

 

Bukan dari pujian manusia.

 

Bukan dari ucapan terima kasih manusia.

 

Tetapi di sisi Allah.

 

Maka ketika kebaikan kita tidak diketahui manusia, jangan langsung merasa sia-sia.

 

Boleh jadi manusia lupa, tetapi Allah tidak lupa.

 

Boleh jadi manusia tidak berterima kasih, tetapi Allah mengetahui setiap pengorbanan.

 

Boleh jadi tidak ada seorang pun yang menyebut nama kita, tetapi Allah mengetahui persis apa yang telah kita lakukan.

 

Dan bukankah pengetahuan Allah sudah lebih dari cukup?

 

Jangan Jadikan Pujian sebagai Upah dari Kebaikan

 

Ada orang yang tidak keberatan berbuat baik.

 

Yang membuatnya lelah adalah ketika kebaikannya tidak dihargai.

 

Ia membantu, tetapi kecewa ketika tidak dipedulikan.

 

Ia berkorban, tetapi sakit hati ketika pengorbanannya dilupakan.

 

Ia memberi, tetapi marah ketika tidak mendapatkan balasan.

 

Pada akhirnya, bukan kebaikannya yang membuatnya lelah.

 

Harapan terhadap manusia-lah yang membuatnya lelah.

 

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita:

 

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

 

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”

 

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini mengingatkan bahwa nilai amal tidak hanya terletak pada apa yang terlihat, tetapi juga pada niat yang tersembunyi di baliknya.

 

Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama, tetapi memperoleh nilai yang berbeda di hadapan Allah.

 

Dua orang sama-sama bersedekah.

 

Yang pertama memberi karena mengharap ridha Allah.

 

Yang kedua memberi agar disebut sebagai orang dermawan.

 

Secara lahiriah, keduanya sama-sama memberikan harta.

 

Namun di sisi Allah, keduanya tidak mesti sama.

 

Sebab Allah melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat manusia:

 

apa yang ada di dalam hati.

 

Ketika Pujian Mulai Mengubah Niat

 

Ujian keikhlasan terkadang bukan ketika kita melakukan kebaikan.

 

Ujian yang lebih berat justru datang setelah manusia mulai memuji kita.

 

Seseorang berkata:

 

“Masya Allah, baik sekali kamu.”

 

Kemudian hati kita merasa senang.

 

Seseorang berkata:

 

“Kamu memang orang yang selalu suka membantu.”

 

Kita semakin menikmati pujian itu.

 

Lalu perlahan-lahan terjadi perubahan yang tidak kita sadari.

 

Awalnya kita ingin menjadi orang baik.

 

Kemudian kita mulai ingin dikenal sebagai orang baik.

 

Keduanya terlihat hampir sama, tetapi sebenarnya sangat berbeda.

 

Menjadi baik membutuhkan kejujuran.

 

Sedangkan terlihat baik bisa dilakukan dengan pencitraan.

 

Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati terhadap pujian.

 

Bukan berarti kita harus membenci ketika dipuji.

 

Tetapi jangan sampai pujian manusia menjadi alasan kita beramal.

 

Dan jangan sampai celaan manusia menjadi alasan kita berhenti berbuat baik.

 

Jika kita berbuat baik karena Allah, maka pujian tidak membuat kita terbang dan celaan tidak membuat kita tumbang.

 

Ikhlas Diuji Ketika Tidak Ada yang Melihat

 

Cobalah tanyakan kepada diri sendiri:

 

“Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui, apakah aku masih mau melakukan kebaikan ini?”

 

Pertanyaan sederhana ini terkadang mampu membuka sesuatu yang tersembunyi di dalam hati.

 

Jika tidak ada kamera, apakah kita tetap bersedekah?

 

Jika tidak ada yang mengetahui, apakah kita tetap menolong?

 

Jika tidak ada yang mengucapkan terima kasih, apakah kita tetap membantu?

 

Jika tidak ada yang memuji, apakah kita tetap melakukan kebaikan?

 

Jika jawabannya adalah “ya”, maka jagalah amal itu.

 

Mungkin tidak ada manusia yang mengetahuinya.

 

Tetapi Allah mengetahuinya.

 

Dan bisa jadi, justru amal yang tidak diketahui manusia itulah yang menjadi salah satu amal paling berharga bagi kita di akhirat.

 

Allah berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

 

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

 

(QS. At-Taubah: 120)

 

Ayat ini seharusnya menjadi ketenangan bagi hati kita.

 

Allah tidak menyia-nyiakan kebaikan.

 

Tidak ada senyum yang sia-sia.

 

Tidak ada pertolongan yang sia-sia.

 

Tidak ada sedekah yang sia-sia.

 

Tidak ada kesabaran yang sia-sia.

 

Tidak ada pengorbanan yang sia-sia.

 

Selama dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

 

Ketika Orang yang Kita Tolong Justru Melupakan Kita

 

Ini mungkin salah satu ujian yang paling berat.

 

Kita pernah menolong seseorang ketika ia berada dalam kesulitan.

 

Kita pernah hadir ketika ia membutuhkan.

 

Kita pernah memberikan waktu, tenaga, bahkan harta.

 

Tetapi setelah ia bangkit, ia melupakan kita.

 

Bahkan terkadang, orang yang pernah kita bantu justru menjadi orang yang menyakiti kita.

 

Sakit?

 

Tentu.

 

Kita manusia.

 

Kita memiliki perasaan.

 

Tetapi jangan sampai kekecewaan itu membuat kita berkata:

 

“Mulai sekarang aku tidak mau berbuat baik lagi.”

 

Mengapa?

 

Karena jika kita berhenti berbuat baik hanya karena pernah dikecewakan, berarti kita telah memberikan kendali kepada manusia atas akhlak kita.

 

Padahal kebaikan kita seharusnya tidak bergantung kepada bagaimana manusia memperlakukan kita.

 

Kita berbuat baik karena Allah memerintahkan kebaikan.

 

Kita membantu karena Allah menyukai orang yang membantu.

 

Kita memaafkan karena Allah mencintai orang yang memaafkan.

 

Bukan karena manusia selalu pantas mendapatkan kebaikan kita.

 

Berbuat Baik Tidak Berarti Membiarkan Diri Dizalimi

 

Namun ada satu hal yang juga harus dipahami.

 

Ikhlas bukan berarti kita harus membiarkan orang lain terus-menerus menyakiti kita.

 

Memaafkan bukan berarti tidak boleh membuat batas.

 

Berbuat baik bukan berarti harus selalu mengatakan “iya” kepada semua orang.

 

Kita tetap boleh tegas.

 

Kita tetap boleh menjaga jarak.

 

Kita tetap boleh mengatakan tidak.

 

Kita tetap boleh meninggalkan sesuatu yang merusak diri.

 

Tetapi jangan biarkan keburukan orang lain mengubah hati kita menjadi buruk.

 

Allah berfirman:

 

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

 

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik...”

 

(QS. Fussilat: 34)

 

Kita boleh menjadi lebih berhati-hati tanpa menjadi lebih kejam.

 

Kita boleh menjadi lebih bijaksana tanpa kehilangan kasih sayang.

 

Kita boleh membuat batas tanpa menyimpan kebencian.

 

Sebab kita tidak ingin menjadi baik hanya ketika diperlakukan baik.

 

Kita ingin menjadi baik karena Allah menyukai kebaikan.

 

Para Ulama Terdahulu Sangat Takut terhadap Riya

 

Para ulama generasi awal sangat memperhatikan perkara hati.

 

Mereka tidak hanya takut amal mereka sedikit.

 

Mereka juga takut amal yang banyak menjadi tidak bernilai karena tercampur dengan keinginan mendapatkan pujian manusia.

 

Karena itu, mereka sangat menjaga amal-amal yang tersembunyi.

 

Ada amal yang sengaja mereka sembunyikan dari manusia, agar tetap menjadi rahasia antara mereka dengan Allah.

 

Inilah salah satu pelajaran besar dari kehidupan generasi terbaik umat ini:

 

Jangan terlalu sibuk menunjukkan kebaikan kepada manusia. Sibuklah memastikan hati kita benar di hadapan Allah.

 

Sebab manusia menilai apa yang terlihat.

 

Allah menilai apa yang tersembunyi.

 

Manusia melihat perbuatan.

 

Allah mengetahui niat.

 

Manusia melihat hasil.

 

Allah mengetahui perjuangan.

 

Jangan Berhenti Menjadi Baik Hanya Karena Tidak Dihargai

 

Mungkin ada di antara kita yang sedang berada di fase ini.

 

Kita pernah memberikan yang terbaik.

 

Tetapi dibalas dengan kekecewaan.

 

Kita pernah tulus.

 

Tetapi dibalas dengan pengkhianatan.

 

Kita pernah membantu.

 

Tetapi kemudian dilupakan.

 

Jika itu yang sedang kita rasakan, tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita terluka.

 

Namun jangan biarkan luka itu membuat kita kehilangan kebaikan.

 

Ambillah pelajaran dari pengalaman.

 

Perbaiki batas.

 

Jadilah lebih bijaksana.

 

Tetapi jangan kehilangan hati yang lembut.

 

Sebab kebaikanmu bukan milik orang yang menerimanya.

 

Kebaikanmu adalah amalmu kepada Allah.

 

Ketika seseorang tidak menghargainya, pahala itu tetap milikmu jika Allah menerimanya.

 

Ketika seseorang melupakannya, Allah tetap mengetahuinya.

 

Ketika seseorang membalasnya dengan keburukan, Allah tetap mampu memberikan balasan yang jauh lebih baik.

 

Tidak Semua Kebaikan Harus Diceritakan

 

Ada sedekah yang lebih indah ketika tidak diketahui tangan kiri.

 

Ada doa yang lebih tulus ketika hanya Allah yang mendengarnya.

 

Ada tangisan yang hanya Allah yang mengetahui.

 

Ada pengorbanan yang tidak pernah masuk cerita siapa pun.

 

Ada kebaikan yang tidak pernah mendapatkan satu pun tepuk tangan.

 

Tetapi justru di situlah keindahannya.

 

Allah berfirman:

 

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

 

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu...”

 

(QS. Al-Baqarah: 271)

 

Ayat ini tidak berarti setiap kebaikan harus disembunyikan.

 

Ada kebaikan yang boleh ditampakkan ketika tujuannya untuk menjadi teladan dan mendorong orang lain melakukan kebaikan.

 

Namun yang harus selalu kita periksa adalah:

 

“Apa yang sedang dicari oleh hatiku?”

 

Apakah ridha Allah?

 

Atau pengakuan manusia?

 

Karena terkadang perbedaan antara ikhlas dan riya hanya dipisahkan oleh sesuatu yang tidak terlihat:

 

niat.

 

Suatu Hari, Semua Pujian Akan Berhenti

 

Kita perlu mengingat satu kenyataan yang sering kita lupakan:

 

Suatu hari kita akan meninggalkan dunia ini.

 

Ketika itu terjadi, tidak ada lagi pujian yang bisa kita kumpulkan.

 

Tidak ada lagi komentar.

 

Tidak ada lagi pengikut.

 

Tidak ada lagi penghargaan.

 

Tidak ada lagi orang yang berkata:

 

“Dia orang baik.”

 

Kita akan berdiri di hadapan Allah membawa apa yang pernah kita lakukan.

 

Allah berfirman:

 

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

 

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

 

(QS. Asy-Syu'ara: 88–89)

 

Pada hari itu, yang kita butuhkan bukan pengakuan manusia.

 

Yang kita butuhkan adalah rahmat dan keridaan Allah.

 

Maka mulai hari ini, jangan terlalu sibuk membangun citra di hadapan manusia.

 

Bangunlah hati di hadapan Allah.

 

Jangan terlalu sibuk memastikan orang lain tahu bahwa kita baik.

 

Pastikan Allah menerima kebaikan kita.

 

Jangan terlalu sedih ketika jasa kita dilupakan.

 

Bukankah Allah tidak pernah lupa?

 

Pada Akhirnya, Hanya Ridha Allah yang Kita Cari

 

Mungkin tidak semua orang akan mengerti perjuanganmu.

 

Mungkin ada yang menganggap kebaikanmu biasa saja.

 

Mungkin ada yang melupakan jasamu.

 

Mungkin ada yang bahkan membalas kebaikanmu dengan keburukan.

 

Tetapi jangan berhenti.

 

Tetaplah menjadi baik.

 

Bukan karena mereka pantas mendapatkannya.

 

Tetapi karena Allah menyukai kebaikan.

 

Tetaplah menolong.

 

Bukan karena mereka pasti akan berterima kasih.

 

Tetapi karena Allah melihat tangan yang memberi.

 

Tetaplah bersedekah.

 

Bukan agar disebut dermawan.

 

Tetapi karena Allah menjanjikan pahala bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas.

 

Tetaplah memaafkan.

 

Bukan karena orang lain selalu layak dimaafkan.

 

Tetapi karena kita juga berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita.

 

Dan ketika tidak ada seorang pun yang melihat kebaikanmu, jangan merasa sendirian.

 

Allah melihatmu.

 

Ketika tidak ada yang berterima kasih, jangan merasa sia-sia.

 

Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal orang yang berbuat baik.

 

Ketika tidak ada yang memuji, jangan berhenti.

 

Pujian manusia bukan ukuran diterimanya amal.

 

Dan ketika manusia melupakan kebaikanmu, ingatlah:

 

“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan memperolehnya di sisi Allah.”

 

(QS. Al-Baqarah: 110)

 

Maka berbuat baiklah.

 

Lakukan dengan tenang.

 

Lakukan dengan ikhlas.

 

Lakukan meskipun tidak ada yang melihat.

 

Lakukan meskipun tidak ada yang memuji.

 

Lakukan meskipun tidak ada yang mengucapkan terima kasih.

 

Sebab kita tidak sedang mengumpulkan tepuk tangan manusia.

 

Kita sedang mengumpulkan bekal untuk pulang kepada Allah.

 

Dan kelak, ketika semua suara manusia telah berhenti, semoga kita menemukan bahwa kebaikan-kebaikan kecil yang pernah kita lakukan dalam diam telah menjadi cahaya di hadapan-Nya.

 

Tidak penting siapa yang melihat kebaikanmu.

Yang penting: semoga Allah meridai apa yang kamu lakukan.

 

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Bermakna: Pesan Mendalam Imam Al-Ghazali tentang Ilmu, Amal, dan Keikhlasan.

Renungan Akhir Tahun dan Harapan di Tahun Depan: Sebuah Refleksi Pengembangan Blog dan Kepenulisan